"Jika periode Desember-Januari pendapatan masih berkisar Rp1.500 juta per hektare, maka pendapatan periode Januari-Februari di desa tertentu hanya berkisar Rp300 ribu-Rp600 ribu per hektare," kata seorang anggota plasma, Abu Bakar, di Kotabaru, Kamis.
Sungguh aneh, kata dia, disisi lain harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit milik masyarakat yang ditanam dengan cara swadaya akhir-akhir ini harganya merangkak naik.
"Kenapa hasil plasma justru semakin anjlok..?" tandasnya. Padahal, umur tanam kelapa sawit milik masyarakat swadaya jauh lebih mudah dibandingkan sawit milik anggota plasma lebih dari 10 tahun.
Sedangkan harga TBS sawit musim tanam diatas 10 tahun harganya jauh lebih mahal dibandingkan TBS dari tanaman kurang dari 10 tahun.
Seorang pedagang TBS di Kotabaru Sunarso, menjelaskan, pendapatan hasil sawit plasma untuk Desa Telaga Sari sekitar Rp1 juta per hektare, Mandala sekitar Rp1,5 juta per ha.
Pendapatan petani sawit di Desa Blok E sekitar Rp600 ribu per ha, Sei Nipah sekitar Rp600 ribu per ha, Pantai Baru sekitar Rp350 ribu per ha, Bumi Asih dan Pembelacanan masing-masing sekitar Rp300 ribu per ha.
Sedangkan Desa Sangking Baru sekitar Rp600 ribu per ha, Cantung sekitar Rp600 ribu per ha, Sungai Kupang Jaya sekitar Rp500 ribu per ha, Plajau Baru dan Pulau Panci masing-masing sekitar Rp1 juta per ha.
Masyarakat, khususnya anggota petani plasma sawit mengharapkan pengelola plasma Koperasi Unit Desa (KUD) Gajah Mada bisa mensosialisasikan penyebab turunya pendapatan anggota plasma sawit. Ketua Koperasi Unit Desa H Abdullah hingga saat ini belum berhasil dikonfirmasi terkait merosotnya pendapatan plasma sawit.
Sementara itu, hingga saat ini KUD Gajah Mada Telagasari, kelumpang Hilir, mengelola kebun plasma seluas 7.200 ha yang tersebar di tiga kecamatan, Kecamatan Kelumpang Selatan, kelumpang Hilir dan kelumpang Hulu.
Kebun plasma tersebut milik sekitar 5.400 masyarakat di 13 desa di tiga kecamatan tersebut.
Sebagian kebun plasma itu sudah lunas, tidak memiliki pinjaman di bank, namun sebagian besar masih memiliki pinjaman yang harus dibayar dari hasil panen.
Perolehan kebun plasma yang sudah tidak memiliki pinjaman bisa mencapai hampir dua kali lipat, dibandingkan dengan hasil panen kebun yang masih memiliki pinjaman modal di bank
Editor : Asmuni Kadri
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.