Pemerintah akan menutup saluran irigasi yang berada di samping kiri dan kanan proyek pembangunan jembatan layang di Jalan Gatot Subroto, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, sepanjang 400 meter untuk pelebaran jalan di sekitar kawasan itu.
Kepala Balai Besar Jalan Wilayah Kalimantan Adriananda di Banjarmasin, Kamis, mengatakan, kendati saluran irigasi tersebut ditutup namun air masih bisa mengalir dengan lancar, karena akan dibuatkan sistem gorong-gorong.
"Jadi di atas irigasi tersebut, nantinya bisa dilalui oleh kendaraan roda empat maupun roda dua, sehingga kemacetan bisa dihindari," katanya.
Mengatasi kemacetan yang terjadi, kata dia, kini pihaknya mengusahakan untuk mempercepat pembangunan jalan layang tersebut paling lambat pada September 2014 atau menjadi sekitar 2,5 tahun.
Menurut Adriananda, saat ini jembatan yang dibangun dengan dana Rp158 miliar tersebut sedang dalam proses pemancangan tiang beton dan diharapkan proses pembangunan lainnya bisa berjalan lancar.
"Sebenarnya tidak ada kendala berarti dalam pembangunan jalan layang tersebut, selain mengakibatkan kemacetan, hanya karena struktur tanah di Kalsel berbeda dengan di daerah lain, sehingga pembangunannya memerlukan teknik tersendiri," katanya.
Seperti misalnya, tambah dia, untuk pemasangan tiang pancang memerlukan kedalaman hingga 40 meter yang merupakan tiang pancang terdalam di seluruh Indoensia, karena biasanya di daerah lain untuk kedalaman tiang hanya sekitar 20 meter paling dalam 30 meter.
Selain itu, kata dia, struktur tanah di sekitar jalan layang juga terdapat batu bara, sehingga memerlukan teknik pengeboran yang lebih sulit dibanding di daerah lain.
"Ada beberapa struktur tanah yang harus dilalui untuk menanam, mulai dari tanah rawa, pasir hingga batu bara yang cukup tebal, sampai ditemukan dasar tanah yang tidak lagi labil," katanya.
Tentang kerusakan jalan di sekitar pembangaunan "fly over" kata Adriananda, pihaknya telah melakukan pertemuan dengan tim, untuk membahas berbagai dampak yang ditimbulkan akibat pembangunan tersebut.
Dalam pertemuan tersebut, telah disepakati tugas dan kewajiban masing-masing instansi terkait, misalnya untuk kelancaran arus lalu lintas dilakukan oleh Lantas Polda Kalsel maupun Polresta Banjarmasin.
Sedangkan untuk kerusakan jalan, kata dia, kewajiban perbaikan dan pemeliharaannya disesuaikan dengan tanggung jawab masing-masing jalan, misalnya jalan nasional, biaya tanggung jawab pemeliharaan oleh Balai Besar Jalan, begitu juga dengan jalan provinsi diatasi oleh provinsi dan jalan kota oleh Pemerintah Kota.
"Kalau jalan Pramuka adalah menjadi tanggung jawab Kota Banjarmasin, tidak mungkin pemeliharaannya menjadi satu paket dengan pembangunan jalan layang, karena tugas pemeliharaan adalah Pemerintah Kota," katanya.
Warga Jalan Pramuka, Wiji Purwono mengatakan, kondisi jalan Pramuka kini rusak berat, hampir sepanjang jalan tembus terminal kilometer enam banyak yang berlubang.
Kondisi tersebut, bukan hanya mengganggu lalu lintas warga, tetapi juga membahayakan bagi pengendara, tidak sedikit warga yang terjatuh atau nyaris tabrakan saat melintas di jalan tersebut.
"Lubang jalan di Jalan Pramuka lebarnya seperti kubangan kerbau, dan ini sangat mengganggu," katanya.
Warga berharap pemerintah daerah segera melakukan perbaikan, minimal dengan menutup lubang tersebut, sehingga bisa mengurangi risiko kecelakaan yang sering terjadi di daerah tersebut.
Apalagi saat ini adanya pengalihan arus ke Jalan Pramuka akibat pembangunan "fly over", seharusnya pemerintah juga memperhatikan dengan kondisi Jalan Pramuka.
COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Selatan 2013
Kepala Balai Besar Jalan Wilayah Kalimantan Adriananda di Banjarmasin, Kamis, mengatakan, kendati saluran irigasi tersebut ditutup namun air masih bisa mengalir dengan lancar, karena akan dibuatkan sistem gorong-gorong.
"Jadi di atas irigasi tersebut, nantinya bisa dilalui oleh kendaraan roda empat maupun roda dua, sehingga kemacetan bisa dihindari," katanya.
Mengatasi kemacetan yang terjadi, kata dia, kini pihaknya mengusahakan untuk mempercepat pembangunan jalan layang tersebut paling lambat pada September 2014 atau menjadi sekitar 2,5 tahun.
Menurut Adriananda, saat ini jembatan yang dibangun dengan dana Rp158 miliar tersebut sedang dalam proses pemancangan tiang beton dan diharapkan proses pembangunan lainnya bisa berjalan lancar.
"Sebenarnya tidak ada kendala berarti dalam pembangunan jalan layang tersebut, selain mengakibatkan kemacetan, hanya karena struktur tanah di Kalsel berbeda dengan di daerah lain, sehingga pembangunannya memerlukan teknik tersendiri," katanya.
Seperti misalnya, tambah dia, untuk pemasangan tiang pancang memerlukan kedalaman hingga 40 meter yang merupakan tiang pancang terdalam di seluruh Indoensia, karena biasanya di daerah lain untuk kedalaman tiang hanya sekitar 20 meter paling dalam 30 meter.
Selain itu, kata dia, struktur tanah di sekitar jalan layang juga terdapat batu bara, sehingga memerlukan teknik pengeboran yang lebih sulit dibanding di daerah lain.
"Ada beberapa struktur tanah yang harus dilalui untuk menanam, mulai dari tanah rawa, pasir hingga batu bara yang cukup tebal, sampai ditemukan dasar tanah yang tidak lagi labil," katanya.
Tentang kerusakan jalan di sekitar pembangaunan "fly over" kata Adriananda, pihaknya telah melakukan pertemuan dengan tim, untuk membahas berbagai dampak yang ditimbulkan akibat pembangunan tersebut.
Dalam pertemuan tersebut, telah disepakati tugas dan kewajiban masing-masing instansi terkait, misalnya untuk kelancaran arus lalu lintas dilakukan oleh Lantas Polda Kalsel maupun Polresta Banjarmasin.
Sedangkan untuk kerusakan jalan, kata dia, kewajiban perbaikan dan pemeliharaannya disesuaikan dengan tanggung jawab masing-masing jalan, misalnya jalan nasional, biaya tanggung jawab pemeliharaan oleh Balai Besar Jalan, begitu juga dengan jalan provinsi diatasi oleh provinsi dan jalan kota oleh Pemerintah Kota.
"Kalau jalan Pramuka adalah menjadi tanggung jawab Kota Banjarmasin, tidak mungkin pemeliharaannya menjadi satu paket dengan pembangunan jalan layang, karena tugas pemeliharaan adalah Pemerintah Kota," katanya.
Warga Jalan Pramuka, Wiji Purwono mengatakan, kondisi jalan Pramuka kini rusak berat, hampir sepanjang jalan tembus terminal kilometer enam banyak yang berlubang.
Kondisi tersebut, bukan hanya mengganggu lalu lintas warga, tetapi juga membahayakan bagi pengendara, tidak sedikit warga yang terjatuh atau nyaris tabrakan saat melintas di jalan tersebut.
"Lubang jalan di Jalan Pramuka lebarnya seperti kubangan kerbau, dan ini sangat mengganggu," katanya.
Warga berharap pemerintah daerah segera melakukan perbaikan, minimal dengan menutup lubang tersebut, sehingga bisa mengurangi risiko kecelakaan yang sering terjadi di daerah tersebut.
Apalagi saat ini adanya pengalihan arus ke Jalan Pramuka akibat pembangunan "fly over", seharusnya pemerintah juga memperhatikan dengan kondisi Jalan Pramuka.
Editor : Ulul Maskuriah
COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Selatan 2013