Tanjung, (Antaranewa.Kalsel) - Melalui radio seorang pekerja di area powerplant PT Makmur Sejahtera Wisesa (MSW), Tabalong menghubungi command center.
Ia melaporkan rekannya mengalami insiden saat sedang melakukan pengecekan di lokasi ID Fan.
Tim rescue segera dikirim. Berpacu dengan waktu mereka harus segera mengevakuasi korban yang berada di lokasi setinggi 12 meter dari permukaan tanah.
Perlengkapan disiapkan body harness, carabiner, tali temali, pulley hingga tandu untuk menurunkan korban dipastikan tidak ada yang terlewat.
Dengan cekatan, tim rescue menaiki titian tangga besi sembari memasang carabiner yang terhubung dengan body harness, di anak tangga yang dilewati sebagai pengaman.
Sampai di atas ditemukan bahwa korban mengalami spinal injury dan tidak bisa bergerak.
Evakuasi tak mungkin lewat tangga dan satu-satunya cara adalah dengan diturunkan lewat tali menggunakan teknik lowering.
Lintasan tali dipasang, korban diletakkan di tandu, kemudian diturunkan. Korban akhirnya sampai di bawah dan dibawa ke rumah sakit.
Ilustrasi itu adalah skenario dalam High Angle Rescue (HAR) challenge, dalam ajang IFRC 2018, Selasa (23/10).
Setiap tim diberi waktu maksimal 30 menit untuk menaiki area, memasang lintasan tali, mengevakuasi korban, dan menurunkan seluruh anggota tim kembali ke bawah.
Menurut salah satu assessor dalam challenge ini Ranauld Korwiranegara menyampaikan dari segi teknis para peserta juga harus memerhatikan faktor medis dalam mengevakuasi korban.
Dalam dunia nyata kata Renauld, mengevakuasi korban dari ketinggian memiliki potensi bahaya yang tinggi.
Luput sedikit, malah bisa menambah jumlah korban.
"Korban yang mengalami cidera, harus distabilkan dan difiksasi dengan benar saat diletakkan di tandu, terutama di bagian kepala, leher dan tulang belakang," katanya.
Waktu juga menjadi tantangan tersendiri. Renauld berujar, mengevakuasi korban dari ketinggian harus tidak boleh dilakukan terlalu lama.
"Intinya, harus cepat tapi juga aman," imbuhnya.
Sementara itu Kapten Tim PT Freeport Indonesia Randi mengatakan timnya sudah melakukan yang terbaik dalam challenge ini.
"Tantangannya saat menurunkan korban dan secara keseluruhan kami sudah melakukan yang terbaik," jelas Renauld.*
COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Selatan 2018
Ia melaporkan rekannya mengalami insiden saat sedang melakukan pengecekan di lokasi ID Fan.
Tim rescue segera dikirim. Berpacu dengan waktu mereka harus segera mengevakuasi korban yang berada di lokasi setinggi 12 meter dari permukaan tanah.
Perlengkapan disiapkan body harness, carabiner, tali temali, pulley hingga tandu untuk menurunkan korban dipastikan tidak ada yang terlewat.
Dengan cekatan, tim rescue menaiki titian tangga besi sembari memasang carabiner yang terhubung dengan body harness, di anak tangga yang dilewati sebagai pengaman.
Sampai di atas ditemukan bahwa korban mengalami spinal injury dan tidak bisa bergerak.
Evakuasi tak mungkin lewat tangga dan satu-satunya cara adalah dengan diturunkan lewat tali menggunakan teknik lowering.
Lintasan tali dipasang, korban diletakkan di tandu, kemudian diturunkan. Korban akhirnya sampai di bawah dan dibawa ke rumah sakit.
Ilustrasi itu adalah skenario dalam High Angle Rescue (HAR) challenge, dalam ajang IFRC 2018, Selasa (23/10).
Setiap tim diberi waktu maksimal 30 menit untuk menaiki area, memasang lintasan tali, mengevakuasi korban, dan menurunkan seluruh anggota tim kembali ke bawah.
Menurut salah satu assessor dalam challenge ini Ranauld Korwiranegara menyampaikan dari segi teknis para peserta juga harus memerhatikan faktor medis dalam mengevakuasi korban.
Dalam dunia nyata kata Renauld, mengevakuasi korban dari ketinggian memiliki potensi bahaya yang tinggi.
Luput sedikit, malah bisa menambah jumlah korban.
"Korban yang mengalami cidera, harus distabilkan dan difiksasi dengan benar saat diletakkan di tandu, terutama di bagian kepala, leher dan tulang belakang," katanya.
Waktu juga menjadi tantangan tersendiri. Renauld berujar, mengevakuasi korban dari ketinggian harus tidak boleh dilakukan terlalu lama.
"Intinya, harus cepat tapi juga aman," imbuhnya.
Sementara itu Kapten Tim PT Freeport Indonesia Randi mengatakan timnya sudah melakukan yang terbaik dalam challenge ini.
"Tantangannya saat menurunkan korban dan secara keseluruhan kami sudah melakukan yang terbaik," jelas Renauld.*
Editor : Imam Hanafi
COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Selatan 2018