Jakarta, (Antaranews Kalsel) - Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Rabu pagi, bergerak menguat sebesar delapan poin menjadi Rp13.507 dibandingkan sebelumnya pada posisi Rp13.515 per dolar Amerika Serikat (AS).

Analis Binaartha Sekuritas Reza Priyambada di Jakarta, mengatakan bahwa rencana reformasi pajak Amerika Serikat yang belum ada kepastian membuat sebagian pelaku pasar keuangan menahan transaksinya terhadap aset berdenominasi dolar AS sehingga memicu koreksi pada dolar AS.

"Belum adanya kejelasan mengenai pembahasan reformasi sistem perpajakan AS dan tenggat waktu yang dibutuhkan untuk dapat menyelesaikan peraturan itu direspon negatif pelaku pasar," katanya.

Ia menambahkan bahwa sebagian pelaku pasar kembali melirik aset-aset d negara-negara berkembang, termasuk Indonesia sehingga rupiah mampu kembali bergerak menguat terhadap dolar AS.

Ia mengatakan bahwa meski pertumbuhan ekonomi Indonesia di triwulan III 2017 di bawah estimasi dan posisi cadangan devisa Indonesia akhir Oktober 2017 lebih rendah dari bulan sebelumnya, namun pelaku pasar optimistis fundamental ekonmi nasional ke depan masih baik sehingga aset berdenominasi rupiah masih cukup menarik diakumulasi.

"Pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan masih tetap terjaga," katanya.

Analis dari PT Platon Niaga Berjangka, Lukman Leong menambahkan bahwa apresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga tidak lepas dari penjagaan Bank Indonesia agar fluktuasinya stabil sesuai dengan fundamentalnya.

"Penjagaan Bank Indonesia menahan tren penguatan dolar AS yang diperkirakan masih akan kuat hingga akhir tahun ini seiring terbukanya potensi kenaikan suku bunga AS," katanya. 

Pewarta: Zubi Mahrofi

Editor : Asmuni Kadri


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Selatan 2017