Keberhasilan program tidak hanya berhenti pada urusan makro seperti tanggul dan kanal. 

Pemerintah daerah jeli melihat problem mikro di lapangan, salah satunya serbuan susupan gunung. 

Tanaman gulma yang selama ini menjadi musuh bebuyutan petani karena menyumbat saluran irigasi dan merusak lahan persawahan kini disulap menjadi berkah ekonomi.  

Tepat pada Selasa, 14 April 2026, Wakil Bupati Wakil Bupati HSU Hero Setiawan menggandeng para pakar dari Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari (UNISKA MAB). 

Kolaborasi ini melahirkan inovasi teknologi tepat guna yang mengubah susupan gunung menjadi pakan ternak berkualitas tinggi.  

“Kami ingin mengubah pandangan masyarakat agar gulma ini menjadi sumber daya yang memiliki manfaat serta nilai ekonomi bagi peternak,” kata Hero Setiawan.  

Program pengolahan pakan ini dijadwalkan berjalan secara intensif mulai tanggal 28 April hingga 2 Mei 2026 di lima desa strategis, yakni Desa Sungai Karian, Jingah Bujur, Murung Asam, Muara Tapus, dan Pinang Habang. 

Dukungan penuh berupa alat pengolah pakan produk asli daerah dan ekskavator amfibi diturunkan ke lokasi untuk memastikan warga desa bisa mandiri memproduksi pakan ternak mereka sendiri. 

Profesor Titin Rostini dari UNISKA menegaskan bahwa keterlibatan akademisi menjadi kunci utama agar inovasi ini berjalan konsisten dan berkelanjutan di masyarakat.  

Ekonomi terintegrasi 

Sektor pertanian yang maju membutuhkan sokongan kelembagaan ekonomi yang kuat.

Bupati Sahrujani turun langsung mengecek kesiapsiagaan lahan untuk pembangunan fisik Koperasi Merah Putih di wilayah Amuntai Selatan, Sungai Pandan, dan Amuntai Tengah. 

Ia juga mengecek kelayakan rencana bangunan fisik yang didirikan nanti benar-benar presisi secara teknis dan tepat sasaran karena akan menjadi motor penggerak ekonomi petani desa.  

Pada hari yang sama, Senin, 6 April 2026, arah pengembangan wilayah pertanian HSU dipertegas melalui adopsi Sistem Pertanian Terintegrasi atau program SITANI. 

Dalam sebuah forum diskusi ilmiah terpadu, Pemkab HSU mengundang akademisi Universitas Gajah Mada (UGM), Universitas Lambung Mangkurat (ULM), hingga peneliti internasional Siep Missaar dari Wageningen University Belanda. 

Fokus kajian diarahkan pada integrasi sektor peternakan rawa, khususnya konservasi kerbau rawa dan revitalisasi itik Alabio yang menjadi ikon daerah. 

Model pertanian terpadu ini menyatukan siklus limbah pertanian untuk pakan ternak dan pupuk organik demi produktivitas lahan yang lebih hijau.  

Agar inovasi ini berjalan serempak, perangkat desa yang tergabung dalam Persatuan Perangkat Desa Indonesia (PPDI) didorong menjadi ujung tombak pelayanan. 

Wakil Bupati Hero Setiawan menginstruksikan skema One Village One Company. 

Setiap desa diwajibkan melahirkan satu unit usaha produktif berbasis potensi lokal. 

Aparat desa diminta inklusif, melibatkan perempuan serta kelompok disabilitas, serta ramah dalam menyerap aspirasi kaum tani.  

Pewarta: Alya Salwa Ramadhina L P

Editor : Mahdani


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Selatan 2026