Lapas Kelas IIA Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel) menggencarkan pembinaan kemandirian yang terintegrasi dengan pemasaran produk hasil karya warga binaan sebagai langkah konkret membekali mereka dengan keterampilan produktif guna membuka peluang nilai ekonomi.
Kepala Lapas Kelas IIA Banjarmasin Akhmad Herriansyah di Banjarmasin, Kamis, mengatakan, pendekatan tersebut memastikan hasil karya warga binaan memiliki akses pasar yang jelas sehingga mampu memberikan dampak nyata dalam proses pembinaan berkelanjutan.
“Produk hasil karya warga binaan kini sudah mulai menarik perhatian para pengunjung lapas, khususnya keluarga yang datang untuk kunjungan. Mereka tidak hanya melepas rindu, tetapi juga untuk membeli berbagai produk yang dipajang di area lapas,” ujarnya.
Dari sektor pertanian, selada segar hasil budi daya warga binaan menjadi salah satu komoditas unggulan yang diminati.
“Selain itu, ada ikan lele dan papuyu dari kolam pembinaan turut dilirik, sementara kerajinan tangan berupa tas dari batok kelapa menghadirkan nilai estetika yang unik dan berbeda,” katanya.
Herriansyah menyebutkan penataan produk dilakukan secara strategis di jalur utama menuju ruang kunjungan dan area perkantoran agar setiap pengunjung bisa melihat semua produk yang ditawarkan, sehingga meningkatkan potensi transaksi dari sekadar perhatian menjadi pembelian.
Berdasarkan data kegiatan kerja, penjualan produk menunjukkan minat yang cukup tinggi dari pengunjung. Tercatat ikan lele terjual sebanyak 14 kilogram, akar pinang, selada, terong, daun bawang, tas batok kelapa, serta keripik tempe.
Herriansyah menegaskan pihaknya berkomitmen meningkatkan kualitas pembinaan, baik dari aspek keterampilan maupun produktivitas, sehingga diharapkan warga binaan tidak hanya menjalani masa pidana, tetapi juga memiliki bekal yang memadai untuk menjalani kehidupan yang lebih baik setelah bebas.
Kepala Seksi Kegiatan Kerja Lapas Kelas IIA Banjarmasin Bagus Paras Etika mengatakan bahwa tingginya minat pengunjung menjadi indikator bahwa program pembinaan berjalan optimal dan mampu menghasilkan produk yang memiliki nilai guna sekaligus nilai ekonomi.
Salah satu pengunjung, Wati, mengaku terkesan dengan kualitas produk yang ditawarkan, dengan hasil budidaya sayur yang segar dan harga terjangkau, sehingga memberikan kepuasan sekaligus kesempatan bagi masyarakat untuk turut mendukung program pembinaan.
Pengunjung lainnya, Mahrita, juga mengapresiasi kreativitas warga binaan, terutama pada produk tas batok kelapa yang dinilai unik dan memiliki daya tarik tersendiri.
“Saya berencana mempromosikan produk warga binaan melalui toko milik saya sebagai bentuk dukungan,” ujar Mahrita.
Editor : Ulul Maskuriah
COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Selatan 2026