Ulama Kalimantan Selatan (Kalsel) Tuan Guru Haji (TGH) Madyan Noor Mar’ie mengingatkan umat Islam agar tidak menganggap enteng atau menyepelekan perbuatan korupsi karena berdampak luas terhadap kehidupan masyarakat dan bisa menggagalkan pembangunan.
“Walau dalam bahasa Banjar, koruptor itu sama dengan maling. Tapi maling di kampung tidak merugikan orang banyak atau berdampak pada kelangsungan pembangunan,” ujar Tuan Guru Madyan saat menyampaikan khutbah di Masjid Raya Sabilal Muhtadin Banjarmasin, Jumat.
Baca juga: Ustaz Aspani sebut bertanya sebagai obat kebodohan
Ia mencontohkan jika pencurian kecil di kampung umumnya hanya berupa sandal, buah nangka, atau uang dalam jumlah terbatas, namun korupsi jauh lebih besar dan berbahaya karena bisa mencapai ratusan juta hingga miliaran rupiah.
“Apalagi mencuri uang sampai miliaran rupiah, itu sangat berat dosanya,” ujarnya menegaskan.
Menurut Tuan Guru Madyan yang pernah menimba ilmu agama di Mekkah dan Madinah, Arab Saudi, akar dari perilaku korupsi adalah kehilangan etika dan rasa malu.
“Baik malu terhadap Allah SWT, terhadap diri sendiri, maupun terhadap sesama manusia,” katanya.
Pengasuh salah satu pondok pesantren di Cipete, Jakarta, peninggalan almarhum KH Idham Chalid — mantan Wakil Perdana Menteri II era Presiden Soekarno itu, mengaku prihatin dengan fenomena meluntur rasa malu di tengah masyarakat saat ini.
Baca juga: Ulama Kalsel: Kaum Muslim harus pahami pengertian Allah agar tidak syirik
Dalam khutbahnya, ulama asal Amuntai, Kabupaten Hulu Sungai Utara (sekitar 185 kilometer utara Banjarmasin) itu juga membacakan sejumlah ayat Al-Quran dan hadits Rasulullah Saw yang menyinggung penting menjaga etika serta menjauhi perilaku korupsi.
“Banyak firman Allah dan sabda Rasulullah SAW yang menekankan pentingnya rasa malu dan larangan korupsi. Tinggal bagaimana sikap mental dan moralitas kita, apakah mau mematuhi ketentuan Allah dan Rasul-Nya,” ujar Tuan Guru Madyan Noor Mar’ie menutup khutbahnya.
Shalat Jumat di Masjid Raya Sabilal Muhtadin tersebut diimami oleh Tuan Guru H Muhammad Fadlian Noor, sementara doa seusai shalat dipimpin Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Kalsel H Muhammad Tambrin yang juga Ketua Badan Pengelola Masjid Raya Sabilal Muhtadin Banjarmasin.
Baca juga: Kaum Muslim diingatkan agar jadi orang pemurah
COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Selatan 2025
“Walau dalam bahasa Banjar, koruptor itu sama dengan maling. Tapi maling di kampung tidak merugikan orang banyak atau berdampak pada kelangsungan pembangunan,” ujar Tuan Guru Madyan saat menyampaikan khutbah di Masjid Raya Sabilal Muhtadin Banjarmasin, Jumat.
Baca juga: Ustaz Aspani sebut bertanya sebagai obat kebodohan
Ia mencontohkan jika pencurian kecil di kampung umumnya hanya berupa sandal, buah nangka, atau uang dalam jumlah terbatas, namun korupsi jauh lebih besar dan berbahaya karena bisa mencapai ratusan juta hingga miliaran rupiah.
“Apalagi mencuri uang sampai miliaran rupiah, itu sangat berat dosanya,” ujarnya menegaskan.
Menurut Tuan Guru Madyan yang pernah menimba ilmu agama di Mekkah dan Madinah, Arab Saudi, akar dari perilaku korupsi adalah kehilangan etika dan rasa malu.
“Baik malu terhadap Allah SWT, terhadap diri sendiri, maupun terhadap sesama manusia,” katanya.
Pengasuh salah satu pondok pesantren di Cipete, Jakarta, peninggalan almarhum KH Idham Chalid — mantan Wakil Perdana Menteri II era Presiden Soekarno itu, mengaku prihatin dengan fenomena meluntur rasa malu di tengah masyarakat saat ini.
Baca juga: Ulama Kalsel: Kaum Muslim harus pahami pengertian Allah agar tidak syirik
Dalam khutbahnya, ulama asal Amuntai, Kabupaten Hulu Sungai Utara (sekitar 185 kilometer utara Banjarmasin) itu juga membacakan sejumlah ayat Al-Quran dan hadits Rasulullah Saw yang menyinggung penting menjaga etika serta menjauhi perilaku korupsi.
“Banyak firman Allah dan sabda Rasulullah SAW yang menekankan pentingnya rasa malu dan larangan korupsi. Tinggal bagaimana sikap mental dan moralitas kita, apakah mau mematuhi ketentuan Allah dan Rasul-Nya,” ujar Tuan Guru Madyan Noor Mar’ie menutup khutbahnya.
Shalat Jumat di Masjid Raya Sabilal Muhtadin tersebut diimami oleh Tuan Guru H Muhammad Fadlian Noor, sementara doa seusai shalat dipimpin Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Kalsel H Muhammad Tambrin yang juga Ketua Badan Pengelola Masjid Raya Sabilal Muhtadin Banjarmasin.
Baca juga: Kaum Muslim diingatkan agar jadi orang pemurah
Editor : Taufik Ridwan
COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Selatan 2025