Banjarmasin, (Antaranews Kalsel) - Kepala Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Kota Banjarmasin Hamdi menyatakan, pada 2017 akan digalakkan di pasat tradisional tanpa kantong kresek lagi.
"Jadi kita anjurkan para pedagang di pasar tradisional tidak menyediakan kantong kresek lagi bagi pembelinya, maksudnya kantong kresek yang sulit terurai," ujarnya di Balaikota, Jumat.
Menurut Hamdi, sosialisasi untuk menggalakkan mengurangi sampah kantong kresek yang sulit terurai sebab bisa bertahan hingga seratus tahun itu, mulai pemerintah kota lakukan di pasar-pasar tradisional.
"Dengan harapan tahun depan bisa dilaksanakan dengan baik oleh para pedagang, dengan kesadaran untuk membantu mengurangi kerusakan lingkungan dari sampah pelastik ini," tuturnya.
Pihaknya menargetkan, kata Hamdi, bisa direalisasikan terlebih dahulu nantinya di tiga pasar yang dikatagorikan pasar sehat, yakni, Pasar Kalindo, Pasar Telawang, dan Pasar Teluk Dalam.
"Di tiga pasar ini nantinya kita minta tidak ada lagi kantong kresek sulit terurai, kalau pembeli mau harus dengan beli," tuturnya.
Sebagaimana yang sudah diterapkan saat ini di ritel-ritel, di mana tidak ada lagi kantong pelastik gratis, untuk membiasakan pembeli membawa wadah sendiri untuk berbelanja.
"Kita bahkan sudah meminta masyarakat kalau kepasar itu membawa "bakul" (wadah dari anyaman khas banjar), ini untuk mengurangi sampah pelastik yang hampir 70 persen mendominasi sampah di daerah ini," paparnya.
Sebagaimana diketahui, kata Hamdi, volume sampah di ibu kota provinsi ini mencapai 600 ton, paling besar itu dari buangan sampah rumah tangga, yang kebanyakan sampah pelastik.
"Sampah pelastik ini sangat mengancam kelestarian bumi kita, hingga kita bersama memiliki kewajiban menanggulanginya," pungkas Hamdi
COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Selatan 2016
"Jadi kita anjurkan para pedagang di pasar tradisional tidak menyediakan kantong kresek lagi bagi pembelinya, maksudnya kantong kresek yang sulit terurai," ujarnya di Balaikota, Jumat.
Menurut Hamdi, sosialisasi untuk menggalakkan mengurangi sampah kantong kresek yang sulit terurai sebab bisa bertahan hingga seratus tahun itu, mulai pemerintah kota lakukan di pasar-pasar tradisional.
"Dengan harapan tahun depan bisa dilaksanakan dengan baik oleh para pedagang, dengan kesadaran untuk membantu mengurangi kerusakan lingkungan dari sampah pelastik ini," tuturnya.
Pihaknya menargetkan, kata Hamdi, bisa direalisasikan terlebih dahulu nantinya di tiga pasar yang dikatagorikan pasar sehat, yakni, Pasar Kalindo, Pasar Telawang, dan Pasar Teluk Dalam.
"Di tiga pasar ini nantinya kita minta tidak ada lagi kantong kresek sulit terurai, kalau pembeli mau harus dengan beli," tuturnya.
Sebagaimana yang sudah diterapkan saat ini di ritel-ritel, di mana tidak ada lagi kantong pelastik gratis, untuk membiasakan pembeli membawa wadah sendiri untuk berbelanja.
"Kita bahkan sudah meminta masyarakat kalau kepasar itu membawa "bakul" (wadah dari anyaman khas banjar), ini untuk mengurangi sampah pelastik yang hampir 70 persen mendominasi sampah di daerah ini," paparnya.
Sebagaimana diketahui, kata Hamdi, volume sampah di ibu kota provinsi ini mencapai 600 ton, paling besar itu dari buangan sampah rumah tangga, yang kebanyakan sampah pelastik.
"Sampah pelastik ini sangat mengancam kelestarian bumi kita, hingga kita bersama memiliki kewajiban menanggulanginya," pungkas Hamdi
Editor : Ulul Maskuriah
COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Selatan 2016