Rohim seorang petani di Kelumpang Selatan, Senin mengaku kewalahan saat menjaga padi yang baru kuning pucuk dari serbuan ratusan burung pipit.
"Ratusan bahkan ribuan ekor burung pipit yang datang tiba-tiba itu menjadi ancaman padi saya mengalami puso," katanya.
Koloni burung pipit yang datang seperti awan hitam tersebut biasanya menyerang padi pada pagi sekitar pukul 05.30 - 09.00 Wita dan sore pukul 16.00 - 18.30 Wita.
Dia mengatakan minat petani untuk bercocok tanam padi di beberapa desa di Kabupaten Kotabaru akhir-akhir ini turun karena tidak mampu menanggulangi hama padi yang mengakibatkan puso.
"Cukup banyak penyakit atau hama yang menyebabkan tanaman padi puso," kata Abah Madun seorang petani lainnya.
Saat padi mulai keluar dan menguning di bagian atas diserang burung pipit sedangkan di bagian bawah diserang hama tikus.
"Sementara hingga saat ini juga masih ada tanaman padi yang diserang hama wereng sehingga padi yang hijau subur lambat laun daunnya menguning dan kering," ujar petani asal Malang itu.
Masih untung, kata dia, musim tanam tahun ini pihaknya diperkirakan masih akan panen antara 3 - 6 hektare.
Kalau musim tanam tahun lalu dari sekitar 12 hektare tanaman padi jenis Ciboga yang bisa dipanen hanya kurang dari seperempat hektare.
"Dari sekitar 12 hektare saat panen hanya memperoleh tujuh sak dengan berat rata-rata sekitar 35-40 kg," terangnya.
Dia berharap panen kali ini dapat menutupi biaya operasional tahun lalu.
"Ke depan kami tidak akan menanam padi dalam jumlah luas tetapi menanam padi biar sedikit tetapi bisa dipanen," katanya.
Abah Madun mengaku akan menanam palawija dan sayur-mayur karena serangan hama jauh lebih kecil dibanding tanaman padi.
"Hama tanaman palawija dan sayuran mudah dikendalikan dibanding tanaman padi," katanya.(C/A)
Editor : Abdul Hakim Muhiddin
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.