Kepala Bidang Syahbandar Adpel Kalsel, Hapid Budiman di Banjarmasin, Senin mengatakan, beberapa kapal barang sudah banyak yang berangkat dari Pelabuhan Trisakti Banjarmasin, termasuk tongkang batubara yang sebelumnya juga banyak tertahan di muara Barito.
"Kita berikan izin berlayar secara terbatas, artinya baru kapal-kapal ukuran besar yang boleh berlayar," katanya.
Saat ini beberapa kapal Roro juga sudah berangkat dari Surabaya, diperkirakan pada Senin atau Selasa ini akan sampai di Banjarmasin untuk mengangkut puluhan truk yang masih menunggu di terminal pelabuhan.
Sejak dikeluarkannya larangan berlayar oleh Adpel dua minggu terakhir, karena gelombang laut mencapai lima meter, ratusan truk menumpuk di pelabuhan Trisakti Banjarmasin, demikian juga dengan puluhan tongkang batubara, juga tidak ada yang berani melakukan pelayaran.
Kondisi tersebut, membuat harga kebutuhan pokok di Kalsel terutama sayur mayur, hingga saat ini melonjak tajam, rata-rata naik hingga Rp20 ribu per kilogram.
Seperti harga wortel yang biasanya hanya sekitar Rp12 ribu kini menjadi Rp30 ribu per kilogram, begitu juga dengan kubis dan kentang, yang biasanya hanya Rp8 ribu per kilogram kini menjadi 30 ribu, bawang prei, kembang kol, rata-rata juga diatas Rp30 ribu.
Salah seorang pengusaha katering, Yuni, mengaku pusing dengan mahalnya berbagai kebutuhan pokok tersebut, apalagi sayur mayur.
"Terpaksa saya mengalihkan menu pesanan yang awalnya capcay dengan sayur yang lebih murah, seperti buncis dan tahu," katanya.
Menurut dia, biasanya sayur kubis dan kentang, hanya Rp8 ribu perkilogram, namun kini menjadi Rp25 ribu hingga Rp30 ribu per kilogram, naik hampir empat kali lipat.
Menurut beberapa pedagang sayur mayur, kenaikan yang cukup signifikan terjadi, karena sayur mayur yang biasanya diangkut oleh kapal kini terpaksa diangkut pesawat, sehingga ongkos kirimnya naik hingga berkali-kali lipat.
Gelombang tinggi juga menyebabkan sopir truk harus menanggung kerugian biaya hidup cukup besar, selama menunggu kapal berlayar.
Salah seorang sopir truk asal Jawa Timur Ades, mengaku sudah menghabaiskan uang tidak kurang dari Rp1 juta, untuk menopang biaya hidup selama 12 hari, menunggu adanya kapal yang berlayar.
Begitu juga dengan para penumpang yang sebagian adalah buruh perkebunan kelapa sawit yang ingin menjenguk sanak keluarganya di Jawa.
"Penginnya ingin cepat pulang, tapi ternyata justru tertahan di pelabuhan Trisakti ini," kata Saniah, pekerja perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Tengah.C
: Imam Hanafi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.