"Beberapa hari ini sejumlah kapal barang dan CPO terpaksa berlabuh di sekitar Pulau Sembilan, karena gelombang tinggi," kata warga Pulau Sembilan, Palawagau, di Kotabaru, Kamis.
Para awak kapal, ujar Kepala Sekolah SMAN 1 Pulau Sembilan itu, mereka naik ke darat di Marabatuan untuk berbelanja keperluan sehari-hari.
Kapal-kapal yang diduga berasal dari daerah di Kalimantan tersebut tidak berani melanjutkan pelayarannya ke Pulau Jawa, setelah melihat kondisi laut terjadi gelombang hingga sekitar tiga meter.
Mereka terpaksa labuh jangkar dan beristirahat menunggu gelombang teduh, dan untuk mengisi waktu sebagian dari Anak Buah Kapal (ABK) berbelanja ke Pulau Sembilan.
Palawagau mengemukakan, hampir 10 hari ini tidak ada kapal yang berani turun ke laut karena gelombang tinggi.
Bahkan kapal perintis yang biasanya melayani pelayaran rute Kotabaru-Pulau Sembilan dan beberapa pulau yang lainnya hingga saat ini tidak beroperasi.
Akibat tidak adanya transportasi tersebut, persediaan barang sembilan bahan pokok juga mulai menipis.
"Kondisi ini sedikit banyak mempengaruhi harga barang di Pulau Sembilan," terangnya.
Mengatasi kondisi sulit tersebut, nelayan dan masyarakat di Pulau Sembilan membeli belanja lebih banyak dari biasanya.
"Bahkan dalam satu rumah tangga, mereka ada yang membeli beras dua hingga tiga karung," imbuhnya.
Padahal, kondisi normal masyarakat di Pulau Sembilan biasa-biasa saja dalam membeli persediaan bahan makanan.
Sementara itu, Pulau Sembilan merupakan salah satu kecamatan dari 20 kecamatan di Kabupaten Kotabaru yang berada di Selatan Kotabaru berbatasan dengan wilayah Kabupaten Sumenep dan Gresik Jawa Timur.
Jarak Pulau Sembilan dengan Kabupaten Kotabaru diperkirakan sekitar 84 Mill.
Hingga saat ini pihak Kantor Administrasi Pelabuhan Kotabaru belum berhasil dikonfirmasi terkait gelombang tinggi tersebut.
: Ulul Maskuriah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.