Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) provinsi setempat, Iskandar Zulkarnaen, di Banjarmasin Senin mengatakan, dari 66 kota di Indonesia yang menjadi sampel, tercatat 33 diantaranya mengalami inflasi dan 33 alami deflasi.
Ia mengungkapkan, sejumlah kota yang mengalami inflasi, tertinggi jadi di Kota Manado, Sulawesi Utara (Sulut) 1,01 persen dan terendah Jember, Jawa Timur (Jatim) 0,03 persen.
Sedangkan kota yang mengalami deflasi, tertinggi di Kota Manokwari, Papua Barat -0,96 persen dan terendah Kota Semarang, Jawa Tengah, Tangerang, Banten, Mataram, Nusa Tenggara Barat, dan Singkawang, Kalimantan Barat masing-masing -0,01 persen.
Inflasi di "kota seribu sungai" Banjarmasin pada November 2012, karena kenaikan harga yang ditujukan oleh naiknya indeks pada kelompok bahan makanan sebesar 2,81 perse.
Selain itu, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,34 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar naik 0,11 persen.
Kemudian kelompok sandang sebesar 0,11 persen, kelompok kesehatan 0,02 persen, serta kelompok transportasi, konumikasi dan jasa keuangan naik sebesar 0,41 persen.
Menurut komponennya, barang-barang yang harganya dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah (administered goods inflation) secara umum mengalami inflasi sebesar 0,42 persen.
Sementara harga yang bergejolak (volatile goods inflation) inflasi sebesar 2,46 persen dan komponen inti (core inflation) mengalami inflasi sebesar 0,35 persen.
Laju inflasi tahun kalender (Januari-November) 2012 sebesar 5,07 persen, sedangkan laju inflasi "year on year" (November 2012 terhadap November 2011) sebesar 6,20 persen, demikian Iskandar. C
: Imam Hanafi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.