"Ternak sapi di Kotabaru masih belum bisa terbebas dari pengakit Jembrana, karena akhir-akhir ini masih ada sapi yang terjangkit Jembrana," kata Kepala Dinas Peternakan Kotabaru H Sabri Madani, di Kotabaru, Kamis.
Terlebih sebagian besar populasi sapi di Kotabaru adalah jenis sapi Bali.
Sedangkan, penyakit Jembrana hanya menyerang jenis sapi Bali, di mana sapi Bali tersebut memiliki ciri warna agak merah dan berpostur tubuh agak kecil itu.
Jembrana merupakan salah satu jenis penyakit sapi yang paling mematikan, karena sebagian besar sapi yang terserang penyakit Jembrana akhirnya akan mati.
Bahkan gelombang atau dampak yang disebabkan tidak sebesar bahaya penyakitnya, ujarnya.
Misalkan, di salah satu daerah ada satu ekor sapi yang terkena Jembrana, maka sapi-sapi yang lain belum tentu terjangkit penyakit langsung dijual dengan harga murah, karena takut mati.
"Bahaya tersebut jauh lebih besar daripada bahaya penyakitnya sendiri," tandasnya.
Sabri mengakui, penyakit Jembrana pernah mewabah di Kotabaru yang menyebabkan peternak menderita kerugian hingga ratusan juta rupiah.
Menjangkitnya penyakit Jembrana kata Sabri, masih bisa dihindari, asalkan peternak bersdia menyerahkan sapinya untuk divaksin dua kali satu tahun.
"Saat ini Dinas Peternakan Kotabaru menyediakan vaksin Jembrana sekitar 400 dosesn untuk 200 ekor sapi," jelas Sabri.
Dengan duia kali vaksin, Insya Allah sapi-sapi tersebut terbebas dari terkjangkitnya penyakit Jembrana.
Sementara jumlah populasi sapi di Kotabaru mencapai lebih 9.000 ekor, sekitar 5.000-6.000 ekor sapi jenis Bali.
Sebelumnya, drh Khoirusaleh, menjelaskan, Jembrana adalah penyakit yang disebabkan Retrovirus dari subfamili Lentivirenae (Kertayadnya et al. 1997) dan pertama kali ditemukan di Kabupaten Jembrana, Bali, 1964, adalah jenis penyakit yang masih dapat disembuhkan.
Tetapi karena peternak gelisah setelah melihat sapinya sakit, akhirnya mereka hanya menunggu sapinya sembuh dan pasrah. Ya lama kelamaan kalau tidak segera di obati sapi itu mati.
Serangan jembrana masih bisa disembuhkan lanjut Saleh, dengan cara memberikan vitamin sebanyak mungkin, dan membersihkan kandang jangan sampai ada genangan air ataupun kotoran.
Dan yang paling penting adalah jangan digembalakan secara liar campur dengan sapi-sapi lain.
Jembaran yang hanya menyerang penyakit jenis sapi Bali (merah) itu juga bisa dideteksi secara dini, dengan ciri-ciri demam, kelenjar limfe (limpo) membengkak hingga tiga kali lipat.
Keluar/erosi superficial selaput lendir mulut, diare bercampur darah, hidung keluar sejenis ingus dan tidak jarang sapi juga mengeluarkan keringat darah.
Peternak juga harus mewaspadai agar sapi yang sakit tidak di campur dengan sapi sehat, karena penularannya sangat mudah ditularkan, hanya melalui caplak boopilus micropus (kutu), kontak langsung, melalui liur," ujarnya.
Editor : Asmuni Kadri
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.