Gubernur Kalimantan Selatan Rudy Arifin mengatakan subsidi bahan bakar minyak khususnya solar di Kalimantan Selatan lebih baik dimanfaatkan untuk subsidi pendidikan maupun pembangunan infrastruktur.

Menurut Gubernur di Banjarmasin, Rabu, solar bersubsidi diduga lebih banyak diselewengkan, sehingga akan lebih baik subsidi itu digunakan untuk pendidikan dan infrastruktur.

Dia menambahkan kelangkaan solar bersubsidi yang menyebabkan terjadinya antrean cukup panjang di beberapa SPBU di Kalsel, salah satunya disebabkan karena disparitas harga solar subsidi dan non subsidi yang cukup tinggi.

Harga solar non subsidi Rp10.150 per liter sedangkan solar bersubsidi sebesar Rp4.500 sehingga terjadi perbedaan harga antara subsidi dan non subsidi sebesar Rp5.650 per liter.

"Mengatasi hal tersebut pada saat seminar tentang BBM yang digelar BPH Migas saya berharap agar disparitas harga solar dihapuskan dan dicarikan harga yang pas, yang tidak memberatkan masyarakat kecil," katanya.

Dengan tidak adanya disparitas harga tersebut, kata dia, diyakini tidak ada lagi antrean solar yang cukup panjang di Kalsel juga penyelewenangan pemanfaatkan BBM khusus tersebut bisa dicegah.

Sementara, dana subsidi BBM yang telah ada, bisa dimanfaatkan untuk peningkatan kualitas pendidikan dan mendorong percepatan infrastruktur.

"Saat ini kita tidak bisa memastikan, apakah subsidi BBM tersebut benar-benar bisa dinikmati sepenuhnya oleh masyarakat yang berhak menerima, atau justru dimanfaatkan oleh oknum-oknum tertentu untuk meningkatkan kekayaan pribadi," katanya.

Sejak beberapa pekan terakhir sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kalimantan Selatan kembali dipenuhi kendaraan roda empat untuk mengantre BBM jenis solar, setelah beberapa bulan terakhir tidak ada antrean dan lancar.

Seorang sopir angkutan umum Nurahsin, mengatakan, di beberapa SPBU kembali terjadi antrean kendaraan roda empat untuk mendapatkan solar.

"Memang antrean truk, angkutan umum dan angkutan pribadi tidak sebanyak dari beberapa bulan lalu," katanya.

Namun aneh, ujar dia, setelah lancar tidak ada antrean hampir tiga bulan, kini di sejumlah SPBU kembali terjadi antrean.

Sejumlah sopir bus antarkota dalam provinsi mengaku, terkadang mereka harus membawa solar cadangan hingga dua jerigen atau 50 liter untuk persiapan apabila kehabisan BBM di jalan dan tidak sempat mengantri.C


: Imam Hanafi

COPYRIGHT © ANTARA 2026