Kalau buah segar lain, seperti "timun suri" (bilungka batu) dan kelapa muda laris manis pada sepuluh hari pertama Ramadhan 1433 H, tapi beda dengan buah durian, tampaknya biasa-biasa saja.
"Bahkan dibandingkan dengan hari-hari biasa sebelum bulan puasa, pembeli buah durian agak berkurang," ujar penjual buah tersebut, yang menggelar jualannya di Jalan A Yani Km22 Landasan Ulin Banjarbaru.
Namun penjual buah durian yang sengaja mendatangkan dari Pulau Sumatera itu, khususnya Medan Sumatera Utara, menyatakan, harus sabar dalam berjualan.
"Memang untuk bulan puasa, kami tidak memesan khusus buah durian, kecuali sisa pesanan sebelum Ramadhan 1433 H yang datang dan dijual sekarang," ujarnya.
Sementara itu, Hj Nurul (59), warga Banjarmasin memperkirakan, sepinya pembeli buah durian di bulan puasa, antara lain karena harga buah eks Medan tersebut cukup mahal.
Sebagai contoh harga satuan buah durian eks Sumut itu paling kecil/murah Rp50.000/buah dan ukuran besar bisa mencapai Rp90.000/buah.
Selain itu, suhu udara bulan puasa sekarang cukup panas, sehingga warga masyarakat kurang bermintas membeli buah durian yang bisa menimbulkan panas pula pada badan.
Faktor lain, mungkin banyak warga masyarakat yang harus menahan diri atau hati-hati makan buah durian, karena berkaitan dengan tekanan darah tinggi, gula darah dan kolestrol.
Oleh karenanya pula warga masyarakat, terutama kaum muslim lebih memilih membeli buah atau minuman segar, seperti bilungka batu (bilungka hapuk) dan kelapa muda, untuk berbuka puasa, demikian Nurul. C
Editor : Imam Hanafi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.