Menurut seorang penjual bahan kebutuhan pokok di Pasar Tradisional Keramat di Barabai, ibu kota Hulu Sungai Tengah (HST), Rini, Kamis, harga gula merah sebelum Ramadhan masih Rp12 ribu perkilogram.
"Kenaikannya bertahap tapi cukup cepat mulai dari Rp13 ribu menjadi Rp15 ribu, Rp17 ribu dan kini harganya sudah Rp18 ribu perkilogram," ujarnya.
Ia mengatakan kenaikan harga gula merah yang terjadi saat ini cukup mengejutkan warga HST sehingga banyak pembeli yang mengeluh dan mengurungkan niat untuk membeli.
"Dari dulu harga gula merah paling tinggi hanya Rp12.500 perkilogram sehingga kenaikan harga yang terjadi saat ini membuat banyak pembeli yang kaget," katanya.
Sudah menjadi kebiasaan setiap memasuki Ramadhan hingga Idul Fitri pada setiap tahunnya selalu diikuti kenaikan beberapa komoditas barang kebutuhan termasuk gula merah.
Namun kenaikan harga gula merah yang terjadi saat ini di akui tidak biasanya serta bukan hanya karena disebabkan oleh trend Ramadhan dan perayaan hari besar.
"Saat ini kondisi cuaca sering turun hujan secara mendadak sehingga menyulitkan para pengrajin gula merah untuk menyadap aren dan berproduksi," ujarnya.
Ia menambahkan, berdasarkan informasi dari para pengrajin gula merah, bahan baku berupa air nira saat ini sudah mulai sulit di dapat.
"Menurut pengakuan para pengrajin gula merah, pohon aren penghasil nira saat ini mulai sulit di dapat dan bilapun ada sulit untuk di sadap karena kondisi cuaca yang sering hujan," tambahnya.
Kondisi tersebut membuat para pengrajin tidak dapat memproduksi gula merah dalam jumlah banyak sedangkan permintaan pasar saat Ramadhan justru meningkat.
Ketersediaan stok gula merah di pasaran yang tidak sebanding dengan tingginya permintaan berimbas pada meningkatnya harga komoditi tersebut.
Editor : Asmuni Kadri
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.