Ketua Asosiasi Gula Bersatu Kalimantan Selatan Aftahudin di Banjarmasin, Jumat mengatakan, saat ini stok gula di distributor tersisa sekitar 1.200 ton padahal kebutuhan per harinya sekitar 500 ton.
Kelangkaan gula tersebut, kata dia, menyebabkan harga gula di tingkat eceran bisa melambung menjadi Rp13 ribu per kilogram bahkan lebih, karena harga di distributor kini menjadi Rp11.600 sampai Rp12 ribu per kilogram.
Kondisi tersebut terjadi, kata dia, karena kebijakan pemerintah pusat yang mempersulit masuknya gula rafinasi terutama ke Indonesia bagian Timur, sehingga Kalsel selalu terjadi kekosongan.
"Ini sangat memprihatinkan, akibat sulitnya mendapatkan gula rafinasi, masyarakat menjadi korban, harga gula melambung," katanya.
Bila Senin (11/6) tidak ada gula yang masuk Kalsel, maka bisa dipastikan hingga satu minggu ke depan, maka stok gula Kalsel kosong.
Mengatasi hal tersebut, kata dia, pihaknya telah memesan kepada distributor gula di Jawa Timur dengan harga yang cukup tinggi yaitu Rp10.300 per kilogram dan di Kalsel menjadi Rp11.300 per kilogram.
Namun, kata dia, pesanan tersebut tidak bisa segera datang dalam waktu cepat, kalaupun datang bisa satu pekan mendatang.
Sebelumnya, untuk menaikkan tingkat kesejahteraan petani gula nasional pemerintah pusat menaikkan HPP gula dari Rp6.600 per kilogram menjadi Rp9.600 per kilogram.
Kenaikan HPP tersebut membuat harga gula di tingkat eceran juga naik menjadi Rp11.500 sampai Rp12.500 per kilogram.
Dengan kekosongan stok gula tersebut, dipastikan harga gula bisa menembus angka Rp13 ribu per kilogram bahkan lebih.
"Kami sendiri bingung, kenapa Kalsel selalu kekurangan stok gula, padahal kini Jawa Timur dan lainnya sedang memasuki musim panen, tetapi harga gula sangat mahal," katanya.
Sedangkan untuk bisa mendapatkan gula rafinasi cukup banyak kendala yang harus dihadapi, sehingga distributor pun cukup kesulitan untuk bisa mendatangkan gula rafinasi atau gula yang biasa untuk industri.
"Pada saat penen, tidak masalah kita membeli gula dari petani, tetapi pada saat kita mengalami krisis seperti saat ini, seharusnya juga dibantu," katanya.
Sebelumnya, berdasarkan surat dari Kementerian Perdagangan, distributor wilayah Kalimantan Selatan hanya diperbolehkan mengambil gula pasir dari PTPN X.
Mengatasi kelangkaan tersebut, Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan telah mengirimkan surat ke Kementerian Perdagangan agar Kalsel diberikan dispensasi dengan memanfaatkan gula rafinasi untuk keperluan rumah tangga, mengingat kebutuhan gula di daerah ini cukup tinggi.
Selama ini gula pasir rafinasi di Kalsel hanya boleh digunakan untuk kebutuhan industri bukan untuk rumah tangga. "Harapan kita saat terjadi krisis gula seperti ini pemerintah pusat memberikan dispensi agar kita bebas mendatangkan gula rafinasi dari Makassar, Cilegon maupun Jawa Timur agar stok gula kita aman," katanya.
: Ulul Maskuriah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.