Pada pertemuan tersebut, kata Hadi, Gubernur menyampaikan data yang telah dihimpun Disperindag Kalsel selama 15 hari pada 74 SPBU di Kalsel bekerjasama dengan pemerintah kabupaten dan kota se-Kalsel.
Dari data yang dihimpun Disperindag tersebut, kata dia, pengiriman solar ke seluruh SPBU Kalsel mulai 1 Mei hingga 15 Mei sebanyak 10.210 kiloliter, sedangkan data dari Pertamina pada pengiriman hari dan waktu yang sama yaitu 11.910 kiloliter.
"Dari data tersebut berarti terjadi selisih pengiriman antara Disperindag dan Pertamina 1.700 kiloliter atau 170 tangki, ini merupakan selisih yang sangat besar," katanya.
Sistem penghitungannya, kata Hadi, Pertamina menghitung melalui mobil tangki yang keluar dari depo dalam setiap harinya, sedangkan Disperindag menghitung tangki yang masuk atau datang ke SPBU dalam setiap harinya.
Selain solar, premium juga terjadi selisih penghitungan yaitu, berdasarkan perhitungan Pertamina premium yang keluar selama 15 hari, 22.630 kiloliter sedangkan perhitungan Disperindag 22.590 kiloliter sehingga terjadi selisih 40 kiloliter atau empat tangki.
Perintah agar Disperindag melakukan pengecekan langsung ke seluruh SPBU tersebut dilakukan, karena Gubernur ingin memastikan kebenaran informasi tentang banyaknya solar bersubsidi yang lari ke pelangsir atau ke perkebunan maupun pertambangan.
"Terkait selisih angka tersebut, akan dilakukan pendalaman kasus, apakah terjadi penyimpangan atau bagaimana," katanya.
Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Karen Agustiawan yang hadir dalam pertemuan tersebut, kata Hadi, berjanji akan menyelidiki dan mendalami kasus selisih angka distribusi solar maupun premium tersebut.
Kalau benar terjadi selisih angka yang cukup besar, kemana larinya, apakah benar-benar terjadi penyelewengan atau ada kemungkinan kesalahan lain.
 Menindaklanjuti kasus tersebut, Karen berjanji akan terus melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah terutama untuk melakukan pengawasan di lapangan termasuk dalam pendistribusian BBM/B/D
: Ulul Maskuriah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.