Kemudian dengan biaya ekonomi rendah, juga kita harapkan harga jual untuk kepentingan umum bisa lebih rendah pula, yang berarti golongan masyarakat kurang mampu dapat terbantu dalam pemenuhan kebutuhan penerangan listrik
Banjarmasin (Antaranews Kalsel) - Sekretaris Komisi III Bidang Pembangunan dan Infrastruktur DPRD Kalimantan Selatan (Kalsel) H Riswandi mengharapkan, agar memperbanyak pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) untuk provinsinya di mulut tambang.


Selain itu, jika memungkinkan dengan kapasitas besar, saran Riswandi yang juga Ketua Panitia Khusus (Pansus) Raperda tentang Pengelolaan Pertambangan Mineral dan Batu Bara di Kalsel di Banjarmasin, Kamis.

Harapan dan saran tersebut sesudah Pansus Raperda tentang Pengelolaan Pertambangan Mineral dan Batu Bara di Kalsel itu studi komparasi ke Sumatera Selatan (Sumsel) beberapa waktu lalu.

Menurut dia, pembangunan pembangkit listrik di mulut tambang dapat menekan pembiayaan operasional, terutama dari segi pengangkutan bahan baku tidak harus harus dengan ekonomi tinggi.

"Kemudian dengan biaya ekonomi rendah, juga kita harapkan harga jual untuk kepentingan umum bisa lebih rendah pula, yang berarti golongan masyarakat kurang mampu dapat terbantu dalam pemenuhan kebutuhan penerangan listrik," ujarnya.

Anggota DPRD Kalsel tiga periode itu mengaku terkesan dengan pembangunan PLTU di "Bumi Sriwijaya" Sumsel tersebut oleh pihak perusahaan swasta banyak di mulut tambang dengan rata-rata kapasita di atas 100 mega watt (MW).

"Di provinsi kita pembangunan PLTU oleh swasta belum sebanyak di Bumi Sriwijaya atau baru beberapa perusahaan pertambangn batu bara, di antara di Kabupaten Tabalong," tutur wakil rakyat bergelar sarjana ilmu pemerintahan itu menjawab Antara Kalsel.

Begitu pula kapasitas daya pembangkit dari PLTU swasta tersebut masih di bawah 100 MW, ujar wakil rakyat asal daerah pemilihan Kalsel IV/Kabupaten Tapin, Hulu Sungai Selatan (HSS) dan Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) itu.

Padahal menurut mantan pegawai Departemen Keuangan Republik Indonesia yang terjun ke dunia politik awal tahun 2000-an itu, Kalsel dengan luas wilayah sekitar 3,7 juta hektare dan terbagi 13 kabupaten/kota cukup potensial tambang batu bara.

"Oleh sebab itu, dengan potensi tambang batu bara sebagai bahan baku pembangkit litrik, saya kira memungkinkan saja membangun PLTU berkapasitas di atas 100 MW," lanjut Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DPRD Kalsel tersebut.

"Kalau pembangunan pembangkit listrik secara terpadu atau terkoordinasi dengan lebih baik antara pemerintahan dengan swasta, permasalahan kelistrikan terutama dalam ketersediaan daya kemungkinan tidak bermasalah lagi," tuturnya.

Sebagaimana pembangkit listrik yang ada di Sumsel menjadi pemasok untuk interkoneksi kelistrikan Pulau Sumatera, terutama buat membantu provinsi tetangganya yang masih tergolong minim ketersediaan tenaga listrik, seperti Bengkulu dan Jambi, demikian Riswandi.

Pewarta: Syamsudin Hasan
Editor : Hasan Zainuddin

COPYRIGHT © ANTARA 2026