Antrean BBM di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum di jalur Trans Kalimantan, di wilayah Kabupaten Kotabaru-Tanah Bumbu-Tanah Laut-Banjarmasin semakin membludak.

Pantauan ANTARA Kamis, sebagian besar yang mengantre BBM di setiap Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) mobil truk angkutan barang, bus, dan mobil pribadi serta mobil berplat merah. Mereka mengantre solar dan premium dengan harga subsidi yaitu, Rp4.500 per liter.

"Banyak mobil truk yang antre solar lebih dari 24 jam," kata seorang sopir mobil pribadi, Yono. Menurut beberapa sopir, mereka rela mengantre solar lebih dari 24 jam, karena selisih harga membeli solar di SPBU jauh lebih murah dibandingkan dengan harga solar di pedagang eceran.

"Selisih harga bisa mencapai Rp200.000-Rp300.000 setiap hari," kata sopir bus Khairudddin. Beberapa pekan ini, lanjut Udin, antrean bukan hanya dari kalangan mobil truk, bus, dan mobil pribadi, namun juga warga yang membeli BBM dengan membawa jerigen juga turut memadati SPBU.

 Membludaknya antrean BBM hampir di setiap SPBU, menurut sejumlah sopir dan warga, terjadi karena menyikapi akan diberlakukanya kenaikan BBM dari Rp4.500 per liter menjadi Rp6.000 per liter per 1 April. Akibat membludaknya atrean, beberapa SPBU terpaksa tutup lebih cepat dari biasanya, karena kehabisan BBM solar dan premium. Banyak bus, truk atau mobil pribadi tidak kebagian BBM saat mendapatkan giliran atrean di depan pompa pengisian.

"Terpaksa memarkir armadanya hingga besuk pagi, karena sayang jika pulang sebelum diisi," kata Khusnul Kirom. Sementara itu, harga premium di pedagang kaki lima beberapa pekan terakhir cukup bervariatif, mulai dari Rp7.000 per liter hingga Rp10.000 per liter.

Sedangkan harga solar juga bervariasi, namun tidak semahal premium, yakni kisaran Rp7.000 per liter-Rp8.500 per liter. /C/C




Editor : Imam Hanafi

COPYRIGHT © ANTARA 2026