Gubernur Kalimantan Selatan Rudy Ariffin mengatakan, Kalimantan Selatan belum siap memanfaatkan nuklir untuk pengembangan energi listrik, pangan dan lainnya sebagaimana diharapkan Menteri Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta.


"Belum terpikirkan memanfaatkan energi nuklir karena mengurusi PLTU Asam-Asam saja hingga kini belum kunjung selesai," kata Gubernur Kalsel Rudy Ariffin di Banjarmasin, Senin.

Menurut Gubernur, masih banyak persoalan energi yang ada di Kalsel saat ini yang belum terselesaikan dengan maksimal, sehingga pihaknya belum memikirkan untuk memanfaatkan energi lainnya.

Pernyataan Gubernur tersebut menjawab pertanyaan wartawan terkait kesiapan Kalimantan Selatan memanfaatkan  energi nuklir untuk pengembangan pertanian dan teknologi lainnya sebagaimana Kalimantan Tengah dan Timur.

Saat ini Kementerian Negara Riset dan Teknologi mengembangkan varietas padi unggul pandan putri di Kalimantan Selatan hasil temuan Badan Tenaga Nuklir Nasional.

Staf Ahli Menristek Bidang Kehumasan Gusti Nooripansyah mengatakan, padi pandan putri yang merupakan hasil pengembangan dari radiasi nuklir merupakan bibit padi yang tahan dalam segala situasi.

"Padi tersebut merupakan pengembangan dari pandan wangi namun lebih tahan terhadap cuaca dan kondisi air," katanya.

Selain itu, kata dia, produktivitasnya cukup tinggi yaitu mencapai 40 ton per hektare.

Padi tersebut juga bisa dipanen hanya dalam waktu tiga bulan dan batangnya jauh lebih tahan terhadap segala cuaca.

Padi tersebut, kata dia, sangat cocok untuk dikembangkan di Kalsel karena tahan terhadap genangan air baik di rawa maupun di lahan banjir serta tahan terhadap musim kemarau.

"Saat ini uji coba padi tersebut masih berupa demplot-demplot yang disemai di sawah di Kabupaten Kotabaru," katanya.

Selain padi, kini RSUD Ulin Banjarmasin dan pabrik pakan ternak Pelaihari Tanah Laut juga memanfaatkan energi nuklir untuk menjalankan teknologi yang dimanfaatkan./B/




Editor : Ulul Maskuriah

COPYRIGHT © ANTARA 2026