Keinginan menjadi daerah yang berswasembada daging yang direncanakan oleh Pemkab Kotabaru Kalimantan Selatan pada 2014, kini bakal tertunda.
Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Kotabaru Sabri Madani di Kotabaru, Rabu, mengatakan, banyak faktor yang menjadi penyebab belum terwujudnya program swasembada daging tersebut.
"Diantaranya, belum adanya pusat pembibitan, dan sarana pendukung lainnya," kata Sabri menjelaskan.
Hingga saat ini, ujar Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Kotabaru, daerah ini masih belum memiliki pusat pembibitan, yang bisa mendukung ketersediaan akan ternak besar.
"Tahun ini kita merencanakan melakukan pembebasan lahan untuk pusat pembibitan, seperti yang ada di pulau Jawa," ujarnya.
Sabri mengemukakan, di sana nanti akan dilakukan uji coba pengembangan ternak unggul, melalui kawin suntik atau inseminasi, dan penanganan penyakit berbahaya.
Selain membangun pusat pembibitan, Dinas Peternakan juga akan meningkatkan sosialisasi kepada peternak di daerah untuk mengubah sistem ternak yang masih tradisional.
Menurut dia, dengan pembinaan kelompok ternak tersebut diharapkan mereka memiliki program usaha untuk mendorong kesejahteraan masyarakat, juga memenuhi target swasembada daging.
Selama ini, kata dia, usaha ternak hanya dijadikan usaha sambilan dan belum dijadikan sebagai usaha unggulan.
Menurut Sabri, potensi peternakan di Kotabaru sangat memungkinkan untuk berkembang, selain pakan melimpah juga prospek pangsa pasar cukup baik.
Pengembangan pusat pembibitan nantinya diharapkan juga dapat menjadi tempat penelitian peternakan di antaranya unggas ayam, itik, kerbau, sapi, domba, dan kambing.
Dia memperkirakan Kotabaru baru akan berswasembada daging sekitar 2017, seiring dengan persiapan yang kini baru dilakukan.
Sementara itu, hingga saat ini kebutuhan akan daging di Kotabaru sekitar 40 persen masih disuplai daerah lain, seperti Tanah Laut, dari Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Timur dan Sulawesi./C/
Editor : Ulul Maskuriah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.