Program klaster padi di Kabupaten Barito Kuala Kalimantan Selatan yang dilaksanakan pada 2011 mampu menekan inflasi di Banjarmasin.


Direktur Bank Indonesia Regional Kalimantan Khairil Anwar di Banjarmasin, Kamis mengatakan, faktor utama inflasi yang terjadi di Banjarmasin selama ini adalah makanan utamanya adalah ketersediaan stok beras lokal.

"Dengan adanya program klaster padi lokal yang mampu mendorong peningkatan produksi padi di Kalsel, terbukti mampu menjadi salah satu faktor yang menekan laju inflasi selama 2011 menjadi hanya 3,98 persen jauh lebih rendah dibanding 2010 sebesar 9,06 persen," katanya. 

Menurut dia, pada 2012 potensi terjadinya inflasi yang cukup tinggi juga masih mungkin kembali terjadi.

Dengan demikian, kata dia, Bank Indonesia Banjarmasin senantiasa mewaspadai faktor-faktor utama pendorong laju inflasi antara lain adalah faktor ketersediaan beras.

Menurut dia, kunci keberhasilan terkendalinya laju inflasi di tahun 2011 adalah pengendalian pada komponen "volatile food" atau harga pangan yang bergejolak, dimana pada tahun 2011 hanya meningkat sebesar 0,05 persen, jauh lebih rendah dibandingkan tahun 2010 yang mencapai 21,47 persen.

Salah satu komponen "volatile food" yang cukup dominan adalah komoditas beras lokal yang banyak dikonsumsi masyarakat kota Banjarmasin dan memiliki pangsa cukup besar terhadap laju inflasi.

"Untuk itulah pada 2012 ini, program klaster padi Lokal di Kabupaten Barito Kuala akan tetap diteruskan," tambah Khairil.

Hal tersebut, kata dia, berdasarkan hasil evaluasi kegiatan klaster padi pada akhir tahun 2011,  program tersebut dapat meningkatkan produktivitas panen padi di dua kecamatan peserta klaster rata-rata hingga mencapai 4 kuintal/ha.

Program klaster padi lokal ini merupakan program kerjasama Bank Indonesia Banjarmasin bersama Pemerintah Kabupaten Barito Kuala yang diinisiasi pada tahun 2011.

Pelaksanaan klaster padi difokuskan pada 2 (dua) kelompok tani yang memiliki potensi produksi cukup besar namun masih sulit mengakses pembiayan dari bank.

Meningkatkan produksi tersebut, para petani memperoleh bimbingan teknis dari penyuluh lapangan Dinas Pertanian Kabupaten Barito Kuala.  

Sementara itu, Bank Indonesia Banjarmasin memberikan dukungan melalui skema BI "Social Responsibility" antara lain meliputi pembenahan tata air makro sepanjang 2 km untuk memperbaiki sistem pengairan sawah, pemberian handtractor, motor roda tiga, 50 ton kapur tani, 4 buah mesin packaging  beras, serta peremajaan mesin Rice Milling Unit (RMU).

Selain itu, untuk memperbaiki adminsitratif keuangan, salah satu koperasi peserta yaitu "Koperasi Tani Sepakat" juga dibekali dengan komputer serta aplikasi akuntansi sederhana.

Dengan administrasi yang baik diharapkan koperasi memiliki laporan keuangan yang memudahkan bank untuk menilai kelayakan usaha koperasi petani sehingga bank tidak akan ragu-ragu lagi menyalurkan kreditnya.

Dengan pembiayaan perbankan tersebut, petani akan dapat lebih mudah memperoleh modal pada masa tanam sehingga mendorong produktivitas dan meningkatkan kesejahteraan petani.

"Kami harapkan realisasi pembiayaan dari perbankan kepada koperasi petani ini dapat direalisasikan pada awal tahun 2012," katanya./B/C




Editor : Imam Hanafi

COPYRIGHT © ANTARA 2026