Sebagian nelayan di Kotabaru Kalimantan Selatan mengeluhkan rendahnya harga ikan hasil tangkapannya tidak sesuai dengan kenaikan harga barang kebutuhan sehari-hari.
"Kami sangat porihatin, harga ikan lajang (peda) satu basket sekitar 20-25 kg hanya sekitar Rp60 ribu," kata tugiman warga Pulau sembilan Kotabaru, Rabu.
Harga murah itu bukan hanya terjadi di tengah laut, tetapi juga di pasar-pasar ikan dan tempat pelelangan ikan.
Menurut dia, harga ikan lajang tersebut belum bisa menutupi biaya operasional nelayan untuk menangkap ikan.
Coba dihitung, ujar Tugiman, apabila seorang nelaan pergi melaut dengan membawa perahu selama empat hari dengan biaya sekitar Rp2 juta-Rp3 juta, dan pulangnya mendapatkan 10-20 basket ikan lajang, berapa uang yang diperoleh nelayan.
Uang hasil penjualan ikan tersebut belum cukup untuk menganti biaya operasional selama menangkap ikan di laut.
"Lantas mana penghasilan nelayan, mereka selalu merugi," jelasnya.
Menurut tugiman, dalam kondisi tersebut, pihak yang diuntungkan adalah pedagang pengumpul (peng-es) yang memebli ikan kepada para nelaan yang masih beroperasi di tengah laut.
Sementara nelayan selalu berada di pihak yang selalu merugi.
Agar nelayan nasibnya sedikit lebih baik, Tugiman berharap pemerintah, melalui Dinas Perikanan dan Kelautan memberikan program pelatihan dan bantuan permodalan bagi nelayan-nelayan lokal dan tradisional.
Sudah waktunya nelayan tidak hanya mengandalkan hasil tangkpanya di laut, dan tergantung musim.
Akan tetapi bagaimana caranya nelayan mampu melakukan pembudidayaan ikan dan ketrampilan yang lainnya untuk menopang kehidupan sehari-hari./C*C
Editor : Imam Hanafi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.