Masyarakat Kotabaru Kalimantan Selatan banyak yang tertarik ingin menjadi guru karena adanya sertifikasi dan menjadi PNS tenaga fungsional.
Direktur Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Paris Barantai Kotabaru Zulkifli AR di Kotabaru, Selasa mengatakan, kendati belum ada penelitian khusus, tetapi dilihat dari prosentase kelulusan SLTA di Kotabaru, mereka lebih condong memilih kuliah di ilmu keguruan dan pendidikan.
"Setidaknya ada dua motifasi yang membuat mereka memilih kuliah di jurusan keguruan," jelas Zulkifli.
Motifasi pertama, sertifikasi, bagi guru yang telah memenuhi syarat tertentu bisa memperoleh sertifikasi, dan guru yang bersertifikasi akan mendapatkan tunjangan atau gaji dua kali lipat, dari guru biasa.
"Berbeda dengan PNS di instansi lainnya, mereka cukup mendapatkan gaji dan tunjangan sama seperti yang diterima guru selain tunjangan sertifikasi," jelasnya.
Motifasi kedua, guru merupakan PNS yang masuk dalam kategori tenaga fungsional.
Tenaga fungsional kenaikan pangkatnya cukup dua tahun, jauh lebih cepat dibandingkan dengan PNS dari tenaga struktural yang memerlukan waktu minimal empat tahun.
Zulkifli yang juga Direktur Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kotabaru menambahkan, untuk kelompok masyarakat mampu, mereka kuliah keguruan di luar Pulau Kalimantan, dan diperguruan tinggi ternama.
Masyarakat kelompok setengah mampu, kuliah keguruan di wilayah Kalimantan Selatan, seperti Banjarmasin.
Akan tetapi bagi masyarakat kelompok pas-pasan tetap kuliah keguruan namun cukup di Kotabaru saja, demikian Zulkifli.
Sedangkan untuk memenuhi kekurangan guru di Kotabaru, pemerintah daerah setempat tidak memilih asal perguruan tinggi, yang terpenting mereka memenuhi syarat dan lulus seleksi CPNS.
Namun hendaknya perekrutan CPNS khusus untuk guru, dapat mempertimbangan asal daerah pelamar. Karena dampaknya setelah diterima dan tugas.
Sering terjadi, guru meninggalkan tempat tugas karena pulang kampung, atau Kotabaru dijadikan batu loncatan saja, dan ujung-ujungnya mereka minta pindah./C*C
Editor : Imam Hanafi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.