Keuntungan dari kelompok UPJA bermanfaat untuk perawatan, membeli bahan bakar, upah operator, dan membeli mesin baru. Kalau tidak dikelola secara profesional dengan pendekatan bisnis, maka begitu mesinnya rusak, mereka tidak bisa memperbaiki apalagi
Barabai (Antaranews Kalsel) - Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Kalimantan Selatan, terus berupaya meningkatkan profesionalisme kelompok tani bukan hanya dalam sektor peningkatan produksi tetapi juga bisnis.

Kepala Seksi Pengembangan Teknologi Balai Alsintan TPH Provinsi Kalsel, Vitaria Siregar di Barabai Rabu mengatakan, salah satu peluang bisnis yang bisa dikembangkan oleh kelompok tani adalah pengelolaan usaha pelayanan jasa alat dan mesin pertanian (UPJA).

Menurut dia, mesin alsintan akan menjadi peluang bisnis yang cukup menguntungkan, bila kelompok tani mampu mengelola manajemen bisnis dengan baik, sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan.

"Kelompok tani yang tergabung di UPJA mendapatkan alat pertanian lebih bayak dibandingkan kelompok tani biasa, sehingga mereka harus mampu memanfaatkan secara professional, sehingga uang yang dihasilkan dari usaha tersebut, bisa dimanfaatkan untuk pemeliharaan alat sehingga lebih efektif dan efisien.

Menurut Vitaria Siregar, alat dan mesin pertanian merupakan salah satu komponen sistem produksi yang sangat vital dalam peningkatan produktivitas dan menekan biaya produksi sehingga bisa mampu meningkatkan kesejahteraan petani. petani.

"Namun banyak petani tidak memahami secara detail perawatan alsintan agar dapat digunakan untuk jangka panjang sebagaimana halnya barang modal," katanya.

Memastikan hal tersebut, kata dia, pihaknya akan segera melakukan survei, apakah mesin alsintan bantuan pemerintah bisa dikelola dan dimanfaatkan dengan baik, yang dibuktikan dengan bertambahnya luas pertanian dan peningkatan produktivitas atau tidak berpengaruh sama sekali terhadap sektor pertanian.`

Jika kelompok tani mampu memanfaatkan alat bantuan tersebut, maka pemerintah akan menambah bantuan alsintannya, namun jika tidak dirawat dan tidak menguntungkan, maka alat tersebut akan ditarik dan direlokasikan ke kelompok lain.

Sekarang ini, tambah dia, pihaknya sedang berupaya mengembangka UPJA dengan pola bisnis profesional, sehingga ada punishment dan reward kepada masing-masing kelompok UPJA yang mendapatkan bantuan.

"Keuntungan dari kelompok UPJA bermanfaat untuk perawatan, membeli bahan bakar, upah operator, dan membeli mesin baru. Kalau tidak dikelola secara profesional dengan pendekatan bisnis, maka begitu mesinnya rusak, mereka tidak bisa memperbaiki apalagi membeli mesin baru," katanya.

Di HST, saat ini terdapat 209 kelompok UPJA, dengan klasifikasi, UPJA baru atau pemula berjumlah 198 kleompok, katagori berkembang 8 kelompok dan hanya satu UPJA yang masuk katagori profesional.

"sejak tahun 2005 UPJA tersebut telah mengelola 366 traktor roda dua, 61 pompa air, 8 cultivator, 1 rice transplanter, 286 mesin perontok, 48pPaddy mower dan 4 combine harvester," katanya. 


Pewarta: M Taupik Rahman
Editor : Hasan Zainuddin

COPYRIGHT © ANTARA 2026