Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kalimantan Selatan Isra mengatakan, konsumsi ikan masyarakat provinsi setempat lebih tinggi dari konsumsi ikan secara nasional.


"Konsumsi ikan masyarakat Kalsel mencapai 41,2 kilogram per kapita sedangkan konsumsi ikan secara nasional 30,3 kilogram per kapita," ujarnya di Banjarbaru, Rabu.


Ia mengatakan hal itu dalam pertemuan bulanan jajaran pimpinan Satuan Kerja Perangkat Daerah Provinsi Kalsel di aula Laboratorium Pembinaan dan Pengujian Mutu Hasil Perikanan Jalan Mistar Cokrokusumo Banjarbaru.


Menurut Isra, tingginya konsumsi ikan itu merupakan salah satu prestasi yang dicapai Dinas Perikanan dan Kelautan melalui program gemar makan ikan yang terus disosialisasikan.


"Makan ikan baik bagi kesehatan karena nilai gizi dan protein tinggi sehingga kami terus mensosialisasikan program gemar makan ikan," ungkapnya di depan Sekdaprov Kalsel Muchlis Gafuri yang memimpin pertemuan.


Dikatakan, sosialisasi program itu dilakukan melalui leaflet maupun baliho yang berisi himbauan makan ikan dan dipasang ditempat-tempat strategis untuk menarik perhatian masyarakat.


Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalsel Rosihan Adhani mengatakan, tingginya konsumsi makan ikan masyarakat Kalsel itu mencirikan pemenuhan gizi yang seimbang bagi kesehatan.


"Tingkat konsumsi makan ikan 41,2 kilogram per kapita itu cukup bagus karena menunjukkan keseimbangan gizi dan protein, selain konsumsi daging," ujarnya yang turut hadir dalam kegiatan tersebut.


Namun, kata dia, konsumsi ikan yang tinggi itu diharapkan bukan karena tingginya konsumsi ikan yang sudah diawetkan seperti ikan kering yang diolah menjadi berbagai menu lauk pauk.


Pasalnya, mengkonsumsi ikan kering tidak baik bagi kesehatan karena kadar garam yang tinggi sehingga memicu penyakit hipertensi atau darah tinggi yang membahayakan kesehatan penderitanya.


"Penyakit hipertensi memicu munculnya penyakit lain yang berbahaya seperti stroke dan penyakit jantung sehingga kami menghimbau masyarakat jangan terlalu banyak mengkonsumsi ikan kering," pesannya.


Ditambahkan, pihaknya mengharapkan konsumsi ikan masyarakat Kalsel yang sudah cukup tinggi dapat terus ditingkatkan sehingga pemenuhan gizi dan protein semakin seimbang disamping konsumsi non ikan maupun daging.


"Keseimbangan gizi dan protein yang didapat dari ikan maupun daging dengan konsumsi makanan nabati lain sangat membantu terjaganya kesehatan tubuh setiap anggota masyarakat," katanya./zal


Pemerintah Kabupaten Kotabaru Kalimantan Selatan, meningkatkan persatuan antar umat beragama dan tokoh masyarakat, agar tidak mudah terhasut oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab.


Kepala Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat Kotabaru H Hariansyah MAP, Rabu, mengatakan, persatuan antar umat beragama dan tokoh masyarakat perlu ditingkatkan untuk membentengi munculnya perpecahan di masyarakat.


"Belajar dari terjadinya konflik di daerah lain, persatuan dan kebersamaan yang sudah dijalin antar umat beragama di Kotabaru perlu dibina dan ditingkatkan," kata Hariansyah.


Terlebih, Kabupaten Kotabaru yang memiliki luas wilayah hampir seperempat wilayah Kalimantan Selatan dan geografis yang sulit.


Tidak ada alasan lain, bahwa persaudaraan antar umat beragama dan tokoh masyarakat yang selama ini sudah dijalin dengan harmonis harus selalu ditingkatkan.


Rencananya, Pemkab Kotabaru melalui Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat melaksanakan pertemuan antar umat beragama di empat kecamatan dari 20 kecamatan di Kotabaru.


Kecamatan Hampang, di kaki pegunungan Meratus, Kecamatan Kelumpang Hulu, Kecamatan Kelumpang Barat, dan Kecamatan Kelumpang Hilir.


Pada pertemuan tersebut, akan dihadiri sejumlah tokoh agama dari Agama Islam, Kristen, Hindu, Budha dan kepercayaan masyarakat adat Dayak.


Sebelumnya, sekitar 17 etnis di Kotabaru juga mengucapkan ikrar damai di Siring Laut Kotabaru.


Wakil Bupati Kotabaru, Rudy Suryana, beberapa waktu lalu mengatakan, sudah lama Kotabaru membentuk Forum Komunikasi Masyarakat Saijaan untuk mempererat kebersamaan dan persaudaraan agar tetap terjaga.


"Bertepatan dengan terjadinya konflik di Tarakan itu, forum ini kembali dimantapkan dengan mengucapkan ikrar dan menyelenggarakan kegiatan pentas budaya daerah," dalam sebuah kesempatan.


Tujuan dari ikrar damai tersebut, kata Rudy, hanya satu, yakni agar tidak terjadi konflik horizontal antarsesama, seperti yang terjadi di Tarakan, Sampit dan Poso.


"Karena meskipun masyarakat Kotabaru yang terdiri dari berbagai adat istiadat dan suku serta budaya itu, tetapi tetap satu, yakni "Masyarakat Saijaan", masyarakat yang seiya sekata," terangnya./zal*C




Editor : Imam Hanafi

COPYRIGHT © ANTARA 2026