Mulai Januari 2012 subsidi minyak tanah di tiga kabupaten dan kota di Kalimantan Selatan bakal dicabut secara penuh.
Hal tersebut disampaikan, Sales Representatif Retail Pertamina Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah, Hari Prasetyo pada pertemuan Gubernur dan kepala dinas di Pemprov Kalsel, Rabu.
Menurut Hari, saat ini subsidi minyak tanah tersebut secara bertahap mulai dikurangi, pertama 25 persen kemudian 50 persen dan kini tersisa 25 persen.
Tiga kabupaten dan kota di Kalsel yang subsidi minyak tanahnya mulai dicabut adalah Kota Banjarmasin, Banjarbaru dan Kabupaten Banjar.
"Sedangkan untuk satu kabupaten lainnya yang telah dilakukan konversi subsidinya belum dicabut karena sedang dalam proses konversi belum selesai," katanya.
Sisa subsidi minyak tanah di tiga kabupaten dan kota sebelum Oktober masing-masing adalah, Kota Banjarmasin sebanyak 170 kiloliter, Banjarbaru 45-50 kiloliter dan Kabupaten Banjar 90 kiloliter.
Selanjutnya, pada Oktober sisa minyak tanah bersubsidi adalah Banjarmasin 45 kiloliter, Banjarbaru 22 kiloliter dan Kabupaten Banjar 45-50 kiloliter.
Sedangkan persediaan November hingga Desember kata dia, Banjarmasin 42 kiloliter, Kabupaten Banjar 20 kiloliter dan Banjarbaru 11 kiloliter.
Dalam satu bulan terakhir, harga minyak tanah di Banjarmasin, mencapai Rp7.000 - Rp9.000 perliter.
Seorang pedagang lontong Rusminah mengaku membeli minyak tanah sebanyak lima liter untuk keperluan memasak selama 15 hari karena masih menggunakan kompor biasa.
"Kalau untuk memasak lontong, saya gunakan kayu bakar saja karena lebih murah dibanding dengan menggunakan minyak tanah, apalagi dengan harga minyak tanah yang cukup mahal, " katanya.
Ia menambahkan jika dipaksakan memasak lontong memakai minyak tanah maka keuntungan jualannya akan menipis bahkan bisa rugi.
Disinggung penggunaan kompor elpiji, janda tiga orang anak ini mengatakan, masih takut karena kompor gas bisa meledak sementara rumahnya terbuat dari kayu dan hanya ada satu jendela./B
Editor : Ulul Maskuriah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.