Sebagian petani peladang berpindah di Kotabaru Kalimantan Selatan, sejak curah hujan tinggi beberapa pekan terakhir mulai membersihkan lahan untuk persiapan tanam.
Seorang petani dari Kelumpang Selatan, Kotabaru, Abah Aliah, Rabu, mengantakan tidak menutup kemungkinan awal tanam tahun ini akan lebih cepat dari tahun sebelumnya yang biasa sekitar Desember-Januari.
"Hal itu terjadi karena curah hujan tinggi terjadi lebih awal dari tahun lalu," ujarnya.
Ia mengaku, petani peladang berpindah beberapa tahun terakhir tidak lagi membabat kawasan hutan, tetapi mereka meminjam lahan milik warga yang lama tidak digarap.
Selain takut ditangkap petugas karena merambah hutan, biaya membabat hutan juga jauh lebih mahal dibandingkan dengan meminjam lahan warga.
"Bahkan sebagian warga pemilik lahan siap memberikan biaya operasional untuk membantu petani peladang berpindah membuka lahan," katanya.
Sejak Agustus, lanjut dia, para petani peladang berpindah mulai membersihkan lahan dari semak belukar dan pohon-pohon kecil dengan cara membabat dan membakarnya.
Cara tersebut lebih efektif, terutama untuk menghemat biaya pembelian pupuk anorganik.
Dalam satu hektare tanaman padi gunung, memerlukan sekitar tiga kwintal pupuk urea dan SP36.
Namun apabila kayu dan semak belukar yang sudah ditebang itu dibakar, keperluan pupuk akan berkurang hingga lebih dari 50 persen menjadi kisaran satu kwintal saja.
Meski petugas melarang warga membersihkan lahan dengan cara membakar, petani peladang berpindah tetap saja membandel karena cara tersebut baiayanya lebih murah, sementara petugas juga tidak memberikan jalan keluar.
Sementara itu, Kepala Badan Pusat Statistik Kotabaru H Faizin Me, beberapa waktu lalu mengatakan, Kotabaru tahun-tahun terakhir mulai terbebas dari masyarakat yang biasa bercocok tanam dengan cara berpindah-pindah dari lokasi satu ke lokasi yang lain.
Hal itu disampaikan Kepala BPS Kotabaru usai survei kehutanan rakyat di Kotabaru.
Seiring perkembangan informasi dan komunikasi serta gencarnya pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat yang peduli melakukan sosialisasi pelestarian hutan, masyarakat dan petani yang tinggal disekitar lokasi hutan tidak lagi melakukan penebangan hutan untuk lahan pertanian.
Akan tetapi mereka, kata Faizin, mulai memanfaatkan lahan pertanian yang ada dengan pola intensifikasi dan pola tanam lebih modern agar menghasilkan panenan yang berlipat.
"Untuk mengetahui sejauh mana kondisi masyarakat saat ini, BPS perlu melakukan survei kehutanan rakyat sasarannya adalah rumah tangga yang tinggal disekitar kawasan hutan," terangnya./C
Editor : Imam Hanafi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.