New York, (Antaranews Kalsel/AFP) - Kurs yen melanjutkan penguatannya di perdagangan New York pada Kamis (Jumat pagi WIB), meskipun ada upaya-upaya untuk memperlambat tren tersebut yang dikhawatirkan akan berdampak pada eksportir Jepang.

        
Yen terangkat sampai setinggi 107,68 per dolar sebelum menetap kembali ke 108,31 yen, membukukan kenaikan 1,3 persen selama Kamis. Ini adalah tingkat tertinggi untuk mata uang Jepang dalam lebih dari 17 bulan.

Terhadap euro, yen naik sekitar 1,6 persen menjadi 123,17, hanya sedikit di bawah tertinggi tiga tahun yang tercapai pada Maret.

Penguatan yen terjadi meskipun banyak upaya oleh pejabat-pejabat Jepang untuk membendung kenaikannya. Kepala Sekretaris Kabinet Yoshihide Suga mengatakan bahwa pemerintah sedang mengawasi dengan cermat pergerakan mata uang itu, Bloomberg melaporkan.

Namun para pedagang mengabaikan itu di tengah kesimpulan pasar bahwa pembuat kebijakan moneter di Amerika Serikat dan Eropa tetap "dovish" dan kenaikan suku bunga AS kemungkinan besar tidak akan terjadi dalam beberapa bulan berikutnya.

"Alarm akan berdering di Kementerian Keuangan dan bank sentral Jepang karena apresiasi yen lima persen merupakan masalah besar bagi pebisnis dan perekonomian Jepang," kata Kathy Lien dari BK Asset Management.

"Namun, segala sesuatu yang telah kita dengar dari pemerintah Jepang sejauh ini menunjukkan bahwa mereka belum siap untuk melakukan intervensi."/f


Editor : Asmuni Kadri

COPYRIGHT © ANTARA 2026