Lima lokasi wisata alam di Kalimantan Selatan rawan terjadi luapan air bah karena kondisi hutan yang rusak akibat alih fungsi lahan baik untuk pertambangan maupun perkebunan.
       
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kalimantan Selatan, Zainal Ariffin di Banjarmasin mengatakan ke lima lokasi tersebut aalah obyek wisata Hantakan, Pagat, air terjun Tumpang Dua dan Hampang Kabupaten Kotabaru, dan Kinarum Kabupaten Tabalong.
       
Obyek wisatan Hantakan, kata dia, rawan terjadi air bah karena adanya alih fungsi lahan yang cukup parah. Hampir seluruh kawasan hutan dan pegunungan di daerah tersebut menjadi lokasi tambang batu bara dan bijih besi.
       
Kondisi tersebut, kata dia, diperparah dengan adanya alih fungsi kawasan hutan menjadi perkebunan kelapa sawit.
       
"Hampir rata-rata seluruh kawasan obyek wisata tersebut sama dengan di Hantakan, kecuali obyek wisata Kinarum," katanya.
       
Menurut dia, dari hasil pantauan setelah terjadinya bencana air bah yang menewaskan tujuh remaja yang sedang wisata pada Sabtu (11/9), atau bertepatan dengan perayaan Lebaran Idul Fitri hari kedua, pihaknya langsung melakukan pemantauan.
       
Dari hasil penyelidikan sementara, kata dia, lokasi wisata Kinarum kondisi hutannya masih sangat bagus, tidak ada alih fungsi lahan, baik itu perkebunan maupun pertambangan.
       
Kalaupun ada penebangan secara ilegal, kata dia, hal itu dilakukan oleh masyarakat sehingga tidak terlalu berpengaruh terhadap keutuhan hutan tersebut.
       
"Obyek wisata Kinarum merupakan salah wisata alam yang masih perawan, belum ada perambahan hutan dalam jumlah besar maupun kegiatan pertambangan dan alih fungsi lahan," katanya.
       
Menurut dia, obyek wisata Kinarum diapit dua gunung yaitu Klereng Wali dan Kundura. Karena letaknya di lembah dua gunung tersebut, wisata sungai Kinarum menjadi sangat indah dan sejuk.
       
Dua gunung tersebut, kata dia, kondisinya masih utuh dan baik, karena tidak ada aktivitas apapun di atasnya.
       
Namun kata dia, beberapa kawasan hutan di luar gunung tersebut, kondisinya sudah sangat memprihatinkan, karena adanya alih fungsi lahan menjadi kawasan pertambangan batu bara.
       
"Apakah kerusakan hutan di sekitar pegunungan tersebut bisa menjadi penyebab terjadinya air bah kami kurang tau pasti," katanya.
       
Namun, kata dia, diduga sebelum air bah berlangsung, curah hujan di pegunungan tersebut cukup tinggi, sehingga hutan di atasnya tidak mampu lagi membendung luapan air.
       
Zainal Ariffin berharap, seluruh warga yang melakukan wisata ke seluruh lokasi tersebut harus selalu waspada, terutama pada saat hujan.


Editor : Abdul Hakim Muhiddin

COPYRIGHT © ANTARA 2026