Daerah pinggiran sampai saat ini belum banyak terjamah program BKKBN. Pemahaman masyarakat tentang KB kebayakan masih terbatas pada alat kontrasepsi saja,
Banjarmasin, (Antaranews Kalsel) - Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Kalimantan Selatan Wagino mengatakan, program keluarga berencana akan banyak difokuskan di daerah pinggiran dan daerah terpencil.

Menurut Wagiono yang baru saja dilantik sebagai Kepala BKKBN Kalsel menggantikan Endang Muriati, di Banjarmasin Jumat mengatakan, masyarakat yang berdomisili di daerah pinggiran perlu banyak memahami masalah program keluarga berencana (KB) yang kembali digalakkan BKKBN.

"Daerah pinggiran sampai saat ini belum banyak terjamah program BKKBN. Pemahaman masyarakat tentang KB kebayakan masih terbatas pada alat kontrasepsi saja, padahal lebih luas lingkupnya, termasuk perencanaan pendidikan anak, perencanaan perkawinan dan sebagainya," katanya.

Wagino sebelumnya menjabat Sekretaris Perwakilan BKKBN Kalimantan Tengah, diserahi jabatan Kepala Perwakilan BKKBN Kalsel yang sebelumnya dijabat Endang Muriati. Endang secara resmi 10 Desembver 2015 lalu, menggantikan posisi Kepala Perwakilan BKKBN KaltengKusnadi yang ditarik ke pusat sebagai Direktur Bina Kesehatan BKKBN.

Menurut Wagino, program-program yang sebelumnya sudah berjalan baik, akan tetap dilanjutkan, terutama program mengatasi pernikahan dini.

Provinsi Kalsel, tambah dia, merupakan daerah tertinggi di Indonesia dalam hal pernikahan dini atau kawin muda.

Berdasarkan data Riskesdes, pasangan usia 10 � 14 tahun di Kalsel yang melakukan kawin muda mencapai 9,4 persen atau mencapai 49,5 persen usia pernikahan di bawah 20 tahun.

Surya Chandra Surapaty dari BKKBN Pusat yang turut hadir di sertijab, mengatakan, aturan wanita dapat melahirkan sebenarnya minimal berusia 21 tahun dan sudah berhenti melahirkan di usia 35 tahun.

"Kenapa kita programkan dua anak cukup, karena rentang kelahiran yang benar ialah tiga tahun. Ini supaya anak yang dilahirkan itu mendapatkan ASI eksklusif hingga usia 2 tahun dan tidak terganggu dengan kelahiran saudaranya," katanya.

Sekretaris Daerah Provinsi Kalsel, Muhammad Arsyadi berharap BKKBN lebih gencar dengan mensosialisasikan program-programnya.

Sehingga, tambah dia, melalui program tersebut, bisa menekan angka kawin muda, kematian ibu melahirkan dan balita.

BKKBN diharapkan menjalin kerja sama dengan berbagai unsur di masyarakat, terutama kalangan remaja, mahasiswa dan pelajar.

Program wajar 12 tahun, kata Arsyadi, salah sau bentuk dukungan pemerintah provinsi terhadap program KB. Kebijakan tersebut, tambah dia, efektif mencegah kawin muda, karena apabila seseorang menuntaskan sekolahnya hingga tingkat menengah atas, minimal dia berusia 18 tahun belum menikah.

Endang Muriati mengatakan, selian faktor akses pendidikan yang masih terbatas, budaya membuat tradisi nikah di usia belia sulit ditinggalkan.

Di beberapa tempat, lebih cepat menikah dianggap lebih baik karena tidak lagi menjadi beban keluarga.

BKKBN Kalsel sudah membentuk pusat informasi dan kelompok-kelompok konselor sebaya, juga di kampus-kampus, sebab informasi dari teman sebaya dianggap lebih diterima daripada saat disampaikan orang tua maupun pejabat.

Pewarta: Ulul Maskuriah
Editor : Ulul Maskuriah

COPYRIGHT © ANTARA 2026