Pembangunan padat karya tersebut, antara lain dengan memperbanyak pembangunan galian, terasiring, saluran air, pembangunan gedung dan lainnya yang mengutamakan tenaga manual atau manusia.
Banjarmasin,(Antaranews Kalsel) - Mengatasi krisis global yang kini juga berpengaruh terhadap perekonomian Kalimantan Selatan pemerintah telah menyiapkan strategi dengan mengutamakan pembangunan yang banyak memanfaatkan tenaga manusia dibanding dengan teknologi.
Sekretaris Daerah Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan M Arsyadi di Banjarmasin Selasa mengatakan, terpuruknya harga tambang batu bara dan menguatnya dolar saat ini, berimbas pada meningkatnya pemutusan hubungan tenaga kerja.
Sehingga kata dia, untuk mengatasi meningkatnya jumlah pengangguran Pemprov Kalsel telah memprogramkan pembangunan padat karya, yang mengutamakan tenaga kerja manusia dan meminimalisasi penggunaan teknologi.
Pembangunan padat karya tersebut, antara lain dengan memperbanyak pembangunan galian, terasiring, saluran air, pembangunan gedung dan lainnya yang mengutamakan tenaga manual atau manusia.
"Kita berharap melalui program tersebut, tenaga kerja bisa segera terserap dan terlibat langsung dalam proses pembangunan, sehingga akan mampu meningkatkan daya beli masyarakat," katanya.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Selatan Harymurthy Gunawan mengatakan, saat ini pertumbuhan ekonomi Kalsel masih relatif melambat, yaitu mencapai 3,2 persen masih di bawah rata-rata nasional yang mencapai 4,7 persen dan di atas rata-rata Kalimantan yang tumbuh sekitar 1,5 persen.
Perlambatan perekonomian Kalsel pada triwulan II-2015 ini, utamanya dipicu oleh kontraksi sektor pertambangan dan ekspor.
Sektor pertambangan Kalsel pada triwulan II-2015 terkontraksi sebesar -1,82 persen, lebih dalam dari triwulan sebelumnya yang terkontraksi sebesar -1,35 persen.
Meski pertumbuhan ekonomi melambat, kata Hary, namun tingkat konsumsi rumah tangga masih relatif terjaga, karena ditunjang oleh inflasi yang relatif menurun.
"Terdapat indikasi konsumsi rumah tangga yang akan tumbuh tertahan seiring dengan perbaikan sektor yang hanya terjadi di subsektor tabama," katanya.
Sedangkan kemampuan daya beli konsumen juga sedikit tertahan, karena indeks penghasilan konsumen saat ini maupun ke depan (ekspektasi konsumen) masih menunjukkan menurunnya optimisme.
 Kondisi tersebut, juga dipengaruhi oleh berkurangnya tenaga kerja sektor pertambangan diiringi dengan peningkatan di sektor pertanian Â
Pewarta: Ulul MaskuriahEditor : Hasan Zainuddin
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.