Banjarmasin (ANTARA) - Anggota Komisi II Bidang Ekonomi dan Keuangan DPRD Kalimantan Selatan (Kalsel) H Haryanto SE berpendapat, efek pandemi COVID-19 luar biasa.

"Efek yang luar biasa itu, baik terhadap perekonomian maupun keuangan daerah," ujar wakil rakyat dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tersebut melalui WA-nya menjawab Antara Kalsel di Banjarmasin, Senin.

Mantan auditor pada Departemen Keuangan (Depkeu) Republik Indonesia itu menunjuk data pada Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPj) Gubernur Kepala Daerah Kalsel Tahun Anggaran 2020.

Sebagai dampak pandemi COVID-19 tersebut  antara lain pendapatan daerah pemerintah provinsi (Pemprov) Kalsel Tahun 2020 tidak mencapai target, dan pertumbuhan ekonomi melambat, ujar laki-laki kelahiran Rembang Purbalingga Tahun 1970 berbintang Aquarius itu.

"Kita berharap Tahun 2021 pandemi COVID-19 di Kalsel atau provinsi yang kini berpenduduk lebih empat juta jiwa tersebar pada 13 kabupaten/kota melandai sehingga dampaknya tidak terlalu besar terhadap perekonomian dan keuangan daerah," demikian Haryanto.

Sebelumnya Penjabat Gubernur Kalsel Dr Safrizal ZA MSi mengungkapkan, pendapatan daerah provinsinya tahun anggaran (TA) 2020 tidak mencapai target.

"Hal tersebut dampak dari pandemi COVID-19," ungkapnya pada rapat paripurna DPRD Kalsel yang dipimpin Ketuanya Dr (HC) H Supian HK SH MH di Banjarmasin, Senin (29/3) dengan agenda penyampaian LKPj Tahun 2020.

Dalam LKPj 2020 itu diungkapkan secara umum pendapatan daerah ditetapkan Rp6,720 triliun lebih terealisasi Rp6,309 triliun lebih atau 93,89 persen.

Khusus pendapatan asli daerah (PAD) target Rp3,124 triliun lebih terealisasi Rp2,860 lebih atau 91,55 persen. Kemudian pendapatan transfer dianggarkan Rp3,497 triliun lebih terealisasi Rp3,364 triliun lebih atau 96,19 persen.

Selain itu, target lain-lain pendapatan yang sah Rp98,694 miliar lebih terealisasi Rp84,747 miliar lebih atau 85,87 persen, ungkap Pj orang nomor satu di jajaran pemerintah provinsi (Pemprov) Kalsel tersebut.

Sementara anggaran belanja langsung sebagai sebab akibat pandemi COVID-19 juga mengalami perubahan atau refocusing yaitu semula Rp3,601 triliun lebih berubah menjadi Rp2,877 triliun lebih.

Mengenai kinerja perekonomian di Kalsel 2020, Pj orang nomor satu di jajaran pemerintah provinsi (Pemprov) tersebut mengungkapkan, hal itu juga mengalami penurunan bila dibandingkan dengan Tahun 2019, sebagai dampak pandemi COVID-19.

Dalam LKPj tersebut disebutkan, kinerja perekonomian Kalsel 2020 pertumbuhan minus 1,81 persen atau menurun bila dibandingkan dengan 2019 yang tumbuh sebesar 4,08 persen.

Pandemi COVID-19 juga memberikan beragam dampak pada sektor industri, pertanian, serta sektor usaha mikro kecil menengah (UMKM).

Berdasarkan hasil pendataan Dinas Koperasi dan UKM Kalsel dari 2.856 penggiat UMKM sebanyak 847 di antaranya  menyatakan bahwa mereka memiliki kredit (utang), dan 644  mengalami penunggakan kredit.

Kemudian sebanyak 98,2 persen penggiat UMKM menyatakan bahwa terjadi pengurangan jumlah pelanggan pada usaha mereka, dan 87 persen penggiat UMKM menyatakan penurunan angka pendapatan usaha, demikian Safrizal.




 

Pewarta: Syamsuddin Hasan
Editor : Gunawan Wibisono

COPYRIGHT © ANTARA 2026