Kotabaru, (Antaranews Kalsel) - Sejumlah pedagang di Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan, beberapa pekan terakhir mengeluh karena penjualan ikan laut turun drastis, setelah penemuan tiga mayat korban Pesawat Airasia QZ8501 di Pulau Maradapan, Pulau Sembilan, Kotabaru.
Pedagang ikan dan sayuran Hanik di Kotabaru, Rabu mengatakan, penjualan ikan laut akhir-akhir ini turun sekitar 60 persen, dari biasanya.
"Jika biasanya kami mampu menjual sekitar 100 kg atau sekitar 100 bungkus, tetapi kali akhir-akhir ini hanya laku kisaran 10 bungkus atau 10 kg, per hari," terang Hanik.
Banyak pelanggan, lanjut Hanik, lebih memilih membeli tahu, tempe, dan sebagian ayam dan ikan air tawar.
Menurut para pelanggan, mereka masih belum mau membeli ikan laut, setelah mendengar cerita dari mulut ke mulut, bahwa mayat yang ditemukan nelayan di Pulau Sembilan, organ tubuhnya sebagian hilang.
"Tidak tahu apa penyebab hilangnya organ tubuh tersebut, yang pasti mereka tidak mau membeli ikan laut dengan alasan yang bermacam-macam," tutur dia.
Sebelumnya, Ummi Fitri dan sejumlah ibu rumah tangga di Kotabaru mengaku belum mau membeli ikan laut.
"Untuk sementara ini, kami tidak tega makan ikan laut...," kata Siti Azahra.
Sebaliknya, permintaan akan ikan air tawar beberapa hari ini melonjak drastis, terutama ikan nila, ikan patin, dan ikan lele serta ikan gabus.
Siti Azahra mengaku harga ikan air tawar, seperti, ikan nila beberapa hari ini naik dari biasanya, dari Rp35.000-Rp37.500 per kg naik menjadi Rp40.000-Rp50.000 per kg.
Sementara itu, tiga mayat korban Airasia yang ditemukan Sudirman nelayan Pulau Maradapan, Kecamatan Pulau Sembilan, Kotabaru, pertama mayat perempuan tidak memiliki lengan tangan kiri, dan tangan kanan putus, sudah sulit untuk dikenali.
Kedua, ditemukan mayat laki-laki mengapung dengan posisi telentang menghadap langit dengan kondisi wajahnya tinggal tengkorak, bola mata hilang, pergelangan tangan kiri dan kanan putus, badan sudah membengkak.
Ketiga, Ibnu menemukan mayat anak perempuan diperkirakan berumur lima tahun, terapung di sekitar jembatan Pelabuhan Desa Maradapan. Dan saat ditemukan mayat anak prempuan tersebut kondisinya sudah tidak berkepala, kedua tangan putus, kedua kaki putus di lutut, dan mengenakan celana jeans pendek warna biru.
 Ketiga mayat tersebut Sabtu sekitar pukul 08.05 Wita diterbangkan ke Juanda, Surabaya, untuk proses identifikasi Â
Pewarta: Imam Hanafi: Hasan Zainuddin
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.