Kalimantan Selatan memiliki potensi wisata yang indah dan eksotis, yang bila dikembangkan akan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi baru di daerah ini,"
Banjarmasin,  (Antaranews Kalsel) - Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia wilayah Kalimantan, Hary Murti Gunawan mengatakan banyak potensi sumber daya alam Kalimantan Selatan selain tambang yang bisa menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru, belum tergarap maksimal.

Menurut Hary di Banjarmasin, Kamis, beberapa sumber daya tersebut antara lain sektor pariwisata, perindustrian dan pertanian.

"Kalimantan Selatan memiliki potensi wisata yang indah dan eksotis, yang bila dikembangkan akan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi baru di daerah ini," katanya.

Hary mengungkapkan, saat ini Kalsel tidak harus terpaku pada sumber daya alam pertambangan batu bara, karena akibat perekonomian dunia, harga batu bara hingga kini belum bisa pulih, sehingga pemerintah harus cepat mengantisipasi kondisi ini dengan mendorong tumbuhnya sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru.

Walaupun perekonomian AS terus menunjukkan perbaikan dan menjadi motor pertumbuhan ekonomi dunia 2014 tambah Hary, namun perekonomian Eropa dan Jepang masih mengalami tekanan.

Perlambatan ekonomi Tiongkok terus berlangsung sehingga mendorong berlanjutnya harga komoditas global yang masih cenderung menurun. Penurunan harga komoditas beberapa tahun terakhir, tambah dia, mengindikasikan berakhirnya siklus kenaikan harga komoditas global.

"Pergerakan harga komoditas sangat dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonomi terutama Tiongkok yang tumbuh double digit. Ke depan, dengan ekonomi Tiongkok yang relatif melambat, harga komoditas global juga diperkirakan tetap pada trend melambat," kata Hary.

Melemahnya ekonomi Tiongkok, tambah dia, juga berdampak pada menurunnya harga komoditas batu bara, nikel dan timah. Selain batu bara, harga karet, yang juga menjadi unggulan Kalimantan Selatan, juga menurun dipicu oleh berlanjutnya penurunan harga minyak dunia dan melemahnya permintaan terutama dari Jepang dan Tiongkok.

Melihat kondisi tersebut, tambah dia, pemerintah perlu mendorong tumbuhnya sumber ekonomi baru, seperti batu bara, tidak lagi terkonsentrasi untuk kebutuhan ekspor, tetapi untuk memenuhi industri-industri dalam negri.

Selain itu, juga perlu didorong tumbuhnya industri setengah jadi dari sektor pertambangan, sehingga ekspor tidak lagi berupa raw material, tetapi berupa bahan jadi.

"Pada masa keemasannya yaitu tahun 2008 harga batu bara bisa mencapai 150 dolar AS, tapi kini harga batu bara di bawah harga 80 dolar AS," katanya.

Sebelumnya, Gubernur Kalimantan Selatan Rudy Ariffin mengungkapkan, pihaknya terus mendorong sumber daya lainnya antara lain pertanian, perkebunan, dan perikanan.

Selain itu, tambah dia, pada 2015 pihaknya akan mengupayakan untuk mendapatkan bagi hasil dari potensi gas Pulau Lari-larian yang kini telah ditetapkan masuk ke Kalimantan Selatan.

"Kita akan berjuang untuk mendapatkan bagi hasil eksploitasi blok Sebuku," katanya.

Terkait bagi hasil potensi minyak di Kabupaten Tabalong, tambah dia, pihaknya akan mempelajari lebih lanjut, seberapa besar potensi minyak bumi di daerah tersebut, dan kemungkinan untuk bisa mendapatkan bagi hasil bagi daerah.

Sebelumnya, Field Manager PT Pertamina EP Tanjung, Tabalong Heragung Ujiantoro mengungkapkan, potensi minyak di Kabupaten Tabalong terbesar ke tiga di kawasan timur Indonesia, setelah Pulau Bunyu dan Sanga-sanga.

Menurut dia, cadangan minyak mentah di Tabalong kisaran 700,70 juta barel dan yang sudah diangkat sampai saat ini baru 160 juta barel / atau 21 persen dari total cadangan minyak di Tabalong.

Awal pengeboran minyak di Tabalong pada 1898 tapi baru diproduksi secara massal pada tahun 1963 atau 51 tahun yang lalu. Hasil pengeboran dikirim ke Balikpapan melalui pipa sepanjang 236,4 kilometer.

Total sumur bor di Tabalong mencapai 521 sumur, namun saat ini yang aktif sekitar 185 sumur.

Adapun produksi minyak mentah di Indonesia timur adalah Sanga-sanga Provinsi Kalimantan Timur sebesar 9.000 barel perhari, Pulau Bunyu 5.500 barel perhari, Tanjung 3.900 barel perhari, Sangata 1.200 barel perhari dan Papua 1.100 barel perhari.

Pewarta: Ulul Maskuriah
: Ulul Maskuriah

COPYRIGHT © ANTARA 2026