Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kalsel, Sriyono di Banjarmasin, Rabu, mengatakan padi yang puso itu berada di Kabupaten Hulu Sungai Selatan seluas 52 hektare Barito Kuala 113 hektare, dan Banjar 25 hektare.
"Kalau banjir yang terjadi dalam beberapa minggu terakhir belum mampu kita data berapa banyak kerusakannya," katanya.
Menurut dia, hingga kini jumlah kerusakan tanaman padi yang siap panen tersebut belum mengancam ketahanan pangan Kalsel dan mengurangi target produksi padi yang telah ditetapkan.
Sebab kata dia, kendati banjir masih merendam sebagian besar daerah rawa, namun panen di lahan pasang surut seperti di Kabupaten Banjar pada April 2011 telah melampaui target.
Begitu juga dengan Kabupaten Hulu Sungai Tengah telah panen hingga 68 ribu hektare dan diharapkan beberapa daerah lainnya segera menyusul.
Sedangkan di daerah rawa seperti Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) hingga kini masih terendam banjir sehingga belum bisa melakukan tanam.
"Kalau untuk HSU target tanam kita mencapai 30 ribu hektare," katanya.
Selama 2011 Dinas Pertanian Kalsel menargetkan produksi hingga 2,1 juta ton naik dibanding 2010 yang realisasi produksinya hanya sekitar 1,8 juta ton akibat sebagian besar lahan rawa di Kalsel tidak bisa tanam.
Kepala Seksi Observas Badan Meteorologi dan Geofisika Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin, Doni Widyasmoro mengatakan, diperkirakan musim kemarau di Kalsel mulai terjadi pada awal Juni hingga Juli.
Dari beberapa indikasi pengaruh cuaca global, kata dia, ada indikasi anomali cuaca pada 2011 akan sama dengan 2010 yaitu terjadi kemarau basah atau hujan akan tetap ada pada musim kemarau.
Tentang suhu panas menyengat yang diraasan masyarakat Banjarmasin dalam beberapa pekan terakhir, kata Doni karena disebabkan posisi matahari sedang bergeser dari ekuator ke arah utara.
Dengan demikian, kata dia, pemanasan matahari lebih banyak terjadi di bagian utara antara lain di Kalsel.
"Makanya dalam beberapa hari terakhir warga Banjarmasin merasakan panas menyengat karena panas matahari cukup tinggi diiringi dengan kelembaban yang cukup tinggi juga," katanya./B
Editor : Ulul Maskuriah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.