Banjarmasin,  (Antaranews Kalsel) - Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia Kalimantan Selatan dalam unjuk rasa di Banjarmasin, Selasa, meminta pemerintah daerah beserta DPRD setempat, baik tingkat provinsi maupun kota agar peduli kepada pemuda tanpa tempat hiburan malam.


Unjuk rasa Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) itu mewarnai peringatan Hari Sumpah Pemuda pada 68 tahun lalu atau 28 Oktober 1928. Mereka beranggapan pemerintah daerah (Pemda) dan DPRD setempat kurang peduli kepada pemuda.

Kekurangpedulian gubernur, wali kota dan para anggota dewan terhadap pemuda di banua (Kalsel) ini, menurut Ketua Umum Pengurus Daerah KAMMI Banjarmasin Muhammad Habibi, terlihat masih banyak permasalahan generasi bangsa, seperti narkoba dan balapan motor liar.

Selain itu, sangat suka ke tempat hiburan malam (THM) yang sarat sumber kemaksiatan, sehingga pemuda kehilangan identitas mereka, ujarnya saat berunjukrasa di halaman Gedung DPRD Kalsel dan DPRD Kota Banjarmasin serta balaikota setempat.

Permasahan lain bagi pemuda zaman sekarang, terutama di Banjarmasin dan Kalsel sebuah fakta atau fenomena sangat memiriskan, seperti anak muda putus sekolah meningkat, setengah dari jumlah penduduk atau sekitar 53,99 persen asih berijazah Sekolah Dasar (SD).

Kemudian 18,12 persen berijazah Sekolah Menengah Pertama (SMP), hanya 8,89 persen mereka yang mampu melanjutkan ke jenjang universitas.

Begitu pula kasus narkoba di kalanga pemuda tiap tahun meningkat, serta seks bebas di luar nikah juga meningkat sejalan dengan peningkatan aborsi dan kasus HIV-AIDs di Kalsel.

Oleh sebab itu, selain menyampaikan Selamat Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2014, KAMMI juga menyeru seluruh pemuda dan mengajak rakyat Kalsel bersama-sama melawan segala bentuk yang dapat merusak moral generasi muda banua.

Dalam kaitan persoalan tersebut, KAMMI menuntut, tutup secara permanen THM/diskotik yang merupakan biang keladi utama dari rusak dan hancurnya moral dan mental para pemuda di banua ini.

Apalagi, menurut mereka, Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari THM tersebut tidak seberapa banyak atau sangat tidak seimbang dengan kerusakan atau kehancuran generasi muda.

Pengunjukrasa juga menuntut pendidikan layak yang merupakan bentuk memperbaiki kualitas pemuda banua dan mengurangi angka kenakalan remaja di Kalsel.

  Selain itu, menekan angka pengangguran para pemuda agar mengurangi jumlah kemiskinan pemuda serta meningatkan angka kesejahteraan di Kalsel yang kini berpenduduk mencapai empat juta jiwa lebih.   

Pewarta: Syamsudin Hasan
: Hasan Zainuddin

COPYRIGHT © ANTARA 2026