"Rusaknya jalan poros cenderung sulit dihindari karena tidak sedikit truk muatan yang melintas di jalan itu," kata Kabid Bina Marga, Dinas Pekerjaan Umum (PU), Kabupaten Tanah Bumhu, Roy Rizali Anwar, ST, kepada ANTARA di Batulicin, Selasa.
Roy pun menambahkan, rusaknya jalan poros juga dipicu ulah petani yang kerap menimbun tanah pada saluran draenase disejumlah titik ruas jalan. Tujuanya untuk mempermudah truk angkutan kelapa sawit memasuki kebun mereka guna memuat hasil panen.
Akibatnya disaat hujan genangan air mudah meluap sampai ke badan jalan. Sehingga kondisinya mudah sekali hancur dan menjadi kubangan lumpur saat dilewati truk angkutan tersebut.
"Belum lagi beban angkutan yang melebihi kapasitas. Kerusakan jalan semakin karena tidak kuat menahan beban angkutan itu," tegas Roy.
Menurutnya saat ini, pemerintah masih menjadwalkan upaya perbaikan kembali terhadap jalan poros atau jalan kabupaten pasca terbentuknya lembaga Unit Layanan Pengadaan barang dan jasa (ULP) beberapa bulan terakhir.
Terbentuknya lembaga tersebut dimaksudkan untuk menangani proses pelelangan terkait segala jenis proyek serta pengadaan barang dan jasa yang ada di daerah itu.
"Tentang upaya perbaikan jalan, baik itu jalan kabupaten dan jalan lingkungan tendernya sudah kami bahas. Mudah-mudahan awal Juni realisasi pengerjaanya bisa dilaksanakan,"katanya.
Rusaknya jalan poros yang mencapai sekitar tiga kilometer dikawasan Desa Harapan Maju membuat setiap pengguna jalan terpaksa ekstra hati-hati saat melintas di jalan itu.
Tidak jarang truk bermuatan hasil kebun kelapa sawit mengalami kemacetan dan nyaris terguling akibat rusaknya jalan sudah semakin parah.
Badan jalan bergelombang dan melebar akibat tekanan roda angkutan kelapa sawit. Bahkan di sejumlah titik terdapat kubangan lumpur yang cukup dalam hingga sulit dilewati setiap pengguna jalan./yanto
Editor : Ulul Maskuriah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.