Pertama-tama, pucuk daun padi merah dan turun ke pangkal dan akhirnya tanaman padi seperti menghilang,"Kotabaru, (Antaranews Kalsel) - Sebagian tanaman padi di Kecamatan Kelumpang Selatan, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan, terserang penyakit "blas" yang disebabkan oleh jamur Pyricularia oryzae (P. grisea) yang mengakibatkan hasil panen menurun.
"Penyakit blas sudah menyebabkan sebagian petani hasil penenannya menurun drastis," kata Ketua Kelompok Tani di Kelumpang Selatan, Muhammad Ali, di Kotabaru, Rabu.
Dia menambahkan, banyak petani tidak bisa mengendalikan serangan penyakit blas yang menyebabkan tanaman padi mati dan menghilang.
"Pertama-tama, pucuk daun padi merah dan turun ke pangkal dan akhirnya tanaman padi seperti menghilang," tuturnya.
Apabila padi sudah terlihat hilang, maka petani dapat dipastikan gagal panen. Berbagai upaya sudah dilakukan, seperti melakukan penyemprotan dengan bermacam-macam racun, tetapi tetap tidak membuahkan hasil.
Ali mengaku, pada musim tanam kali ini, pihaknya menemukan salah satu upaya untuk menaggulangi serangan blas, tetapi masih belum dapat diterapkan dalam skala besar.
"Kita masih terus melakukan uji coba, dan mudah-mudahan berhasil dan akhirnya dapat ditiru oleh petani yang lainnya," paparnya.
Ia mengaku, tanaman padinya tidak sempat diserang blas, tetapi hektaran tanaman padi milik tetanggannya sudah diserang dan kini masih tersisa sebagian kecilnya saja.
Sementara itu, diperoleh informasi bahwa penyakit blas yang disebabkan jamur ini menyerang tanaman padi pada masa vegetatif dan menimbulkan gejala blas daun (leaf blast), dengan ditandai adanya bintik-bintik kecil pada daun berwarna ungu kekuningan.
Semakin lama bercak menjadi besar, berbentuk seperti belah ketupat dengan bagian tengahnya berupa titik berwarna putih atau kelabu dengan bagian tepi kecokelatan.
Serangan pada fase generatif menyebabkan pangkal malai membusuk, berwarna kehitaman dan mudah patah (busuk leher). Penyakit blas merupakan salah satu kendala utama dalam budi daya padi karena bila terserang jamur Pyricularia oryzaeini bila tidak diwaspadai sejak awal akan mengakibatkan penurunan produksi hingga 70 persen.
Beberapa cara pencegahan dan pengendalian: Pengelolaan tanaman terpadu (PTT) pada tanaman padi. Salah satu tujuan PTT adalah mampu menekan penurunan hasil akibat Organisme penggangu tumbuhan.
Penggunaan varietas baru yang tahan terhadap blas sangat dianjurkan bagi daerah yang endemi terhadap blas antara lain: Inpari 13, Luk ulo, Silugonggo, Batang Piaman, Inpago.
Proses dekomposisasi jerami selain dapat berfungsi sebagai pupuk organik juga dapat membunuh miselia blas dan tidak berpotensi untuk berkembang.
Penggunaan pupuk sesuai anjuran terutama pada daerah-daerah endemi penyakit blas terutama dengan penggunaan Nitrogen yang tidak berlebihan dan dengan penggunaan kalium dan phosfat, dianjurkan agar dapat mengurangi infeksi blas di lapangan. Penggunaan kalium mempertebal lapisan epidermis pada daun sehingga penetrasi spora akan terhambat dan tidak akan berkembang di lapangan.
Pengaturan waktu tanam pada saat yang bertepatan banyak embun perlu dihindari agar pertanaman terhindar dari serangan penyakit blas yang berat. Keadaan ini memerlukan data iklim spesifik dari wilayah-wilayah pertanaman padi setiap lokasi.
Penggunaan fungisida kimia juga dianjurkan bagi daerah yang endemi terhadap blas dengan ketentuan menggunakan Pengendalian Hama secara Terpadu dan tepat guna. Ada beberapa fungisida kimia yang bekerja secara sistemik di pasaran contoh :mikocide 70, Trycyclazole, Amistartop, Score, Pyoguilon, Nelumbo 250 EC, Prima Vit dll.
Fungisida nabati dapat berupa produk langsung jadi yang dijual dipasaran misalnya Inokulan/starter Trichoderma sp dan Gliocladium sp yang digunakan sebagai tindakan preventif pada masa vegetatif padi. Fungisida nabati juga dapat dibuat secara sederhana dari bahan-bahan sederhana. Berikut ini adalah beberapa cara membuat Fungisida Nabati.
Pewarta: Imam HanafiEditor : Asmuni Kadri
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.