Mantan Ketua Gabungan Bridge Seluruh Indonesia (GBSI) Kalsel itu mengatakan permasalahan yang sama juga dialami oleh atlet bridge di Kalimantan Tengah yang potensinya juga cukup tinggi namun minim pembinaan dan pengembangan.
"Dulu ketika pra Pekan Olahraga Nasional (PON) di Palembang Sumatera Selatan (Sumsel) Tahun 2002, Kalsel bisa masuk delapan besar. Tapi karena cuma masuk delapan besar, kita tak bisa ikut PON 2004 yang juga digelar Sumatera Selatan itu," ungkapnya.
Mantan anggota DPR-RI dari Golkar asal daerah pemilihan Kalsel itu berharap, ke depan atlet bridge bisa meningkatkan prestasi dalam bermain olahraga otak, yang sarat dengan taktik dan strategi tersebut.
"Kalau kita melihat hasil Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Kalsel belakangan ini, terutama untuk cabang bridge, pebridge yang meraih juara bisa diandalkan dalam ajang kejuaraan nasional," tuturnya.
Ia mengaku, dalam bermain bridge selain memerlukan pemikiran yang jernih, tanpa pengaruh persoalan lain, juga perlu kesabaran. Sebab tanpa kesabaran dan pemikiran yang jernih, permainan bridge jadi kacau.
Oleh karenanya, permainan bridge juga sebagai salah satu upaya pengendalian diri, tak bersikap gegabah dan emosional, demikian Fahrin Ilham.
Pada kesempatan terpisah, Yana, seorang pebridge wanita, mengatakan, untuk bermain bridge harus betul-betul punya waktu banyak atau melowongkan waktu secara khusus.
"Sebab dengan waktu yang tergesak-gesak, hasil permainan bridge tersebut kurang memuaskan," lanjut salah seorang pengurus Gabsi Kalsel itu.
Selain itu, untuk bisa menghasilkan permainan yang baik, tak bisa bermain bridge tersebut hanya sekedar main-main, tapi harus betul-betul serius," demikian Yana.(her/B)
Editor : Ulul Maskuriah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.