"Kabarnya banyak kapal yang tertahan di pelabuhan tidak diizinkan berlayar karena gelombang besar menjadi pemicu naiknya harga beras khususnya yang didatangkan dari Surabaya," kata Umi Fitri, pedagang beras di Kotabaru, Selasa.
Dijelaskan, biasanya beras merek Semar rata-rata kisaran Rp165 ribu persak isi 22 kg namun belakangan menjadi Rp171 ribu.
Selain beras merek Semar beberapa jenis beras lokal juga terpengaruh naik meski tidak signifikan.
Pada kondisi gelombang laut normal beras merek Semar dijual eceran kisaran Rp8.750/kg naik sebesar Rp550/kg atau 6,29 persen menjadi Rp9.300/kg dan beras Unus (Mutiara) dari Rp13.000/kg naik Rp400/kg atau 3.08 persen menjadi Rp13.400/kg.
Selanjutnya beras merek Karang Dukuh sebelumnya hanya kisaran Rp10.900/kg naik Rp1.700/kg atau 15 persen menjadi Rp12.600/kg.
Menurut Joni Anwar MAP saat masih menjabat Kepala Dinas Perdagangan, Penanaman Modal dan Pengelolaan Pasar mengakui, beras yang khusus didatangkan dari Pulau Jawa terjadi kenaikan dan besarnya diperkirakan mencapai 5-15 persen sedangkan untuk jenis beras lokal hanya naik di bawah lima persen.
Sudah menjadi kebiasaan apabila pelayaran terganggu gelombang besar harga sembilan bahan pokok di Kotabaru sedikit terpengaruh, katanya.
Joni berharap setelah kondisi pelayaran normal harga sembilan bahan pokok khususnya harga beras kembali normal.
Sebelumnya Kepala Dolog Kotabaru Rony Hadianto mengatakan, Kantor Depot Logistik (Dolog) Kotabaru segera mendatangkan 1.000 ton beras dari luar daerah untuk memenuhi kebutuhan beras bagi rumah tangga miskin.
"Mudah-mudahan Maret nanti beras tersebut mulai datang," katanya.
Saat ini, kata dia, stok beras di gudang sekitar 400 ton, stok tersebut cukup untuk dua sampai tiga bulan ke depan.
Dia mengaku belum mengetahui secara pasti beras sebanyak 1.000 ton itu berasal dari daerah mana.
"Mungkin saja dari Kalsel, bisa juga dari Sulawesi atau daerah lain. Itu tidak masalah karena Dolog sudah interkoneksi saling mengisi," tegasnya.(C/A)
Editor : Abdul Hakim Muhiddin
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.