Banjarmasin,  (Antaranews Kalsel) - Dalam dua pekan terakhir beras lokal Kalimantan Selatan (Kalsel) mulai "menghilang" atau sulit dicari, sehingga harganya melonjak tajam.

Seorang pedagang beras di pasar beras Banjarmasin, Hamidah, Rabu mengatakan, sejak dua pekan terakhir beberapa jenis beras lokal sulit untuk didapatkan. Kalaupun ada harganya naik tajam.

Beberapa beras yang naik yaitu, beras ganal atau beras biasa naik menjadi Rp105.000 per blek dari sebelumnya Rp95.000, beras siam sebelumnya Rp105.000 per blek kini menjadi Rp120.000.

Begitu juga dengan beras unus, sebelumnya Rp110.000 per blek menjadi Rp125.000, sedangkan beras unus dengan kualitas super sebelumnya Rp115.000 per blek menjadi Rp130.000.

"Harga tersebut merupakan harga pembelian kita dari petani, sedangkan harga penjualan rata-rata kita naikkan Rp4.000 per blek," katanya.

Setiap blek beras, kata Hamidah, berisi antara 14-15 kilogram beras, sesuai dengan besar kecilnya butiran beras. Makin kecil butiran beras, timbangannya makin ringan.

"Kenaikan harga beras memang tidak langsung besar, tetapi hampir tiap hari naik sedikit demi sedikit," katanya.

Menurut Hamidah, kenaikan harga beras tersebut akibat terjadinya gagal panen pada musim kering selama 2009, sehingga kini persediaan beras lokal mulai menipis.

Sementara itu, pedagang pengecer beras di Pasar Lama Banjarmasin H Badarudin mengatakan, dalam dua pekan terakhir dia kesulitan mendapatkan pasokan beras dari beberapa pedagang langganannya.

Biasanya, kata dia, pihaknya bisa menyetok beras dagangan antara 500 hingga seribu karung, namun kini tidak lebih dari seratus karung.

Kondisi tersebut, kata dia, mengakibatkan harga beras naik tajam antara lain beras siam atau karang dukuh naik Rp2.000 dari Rp4.500 menjadi Rp6.500 per kilogram, unus sebelumnya Rp5.000 per kilogram menjadi Rp7.500 per kilogram.

"Saya tidak tahu pasti kenapa terjadi kelangkaan beras lokal, informasinya karena persediaan di petani mulai menipis, karena sebelumnya begitu mendengar harga beras naik, petani berlomba menjual beras persediaannya," katanya.

Kondisi tersebut berbeda dengan beras Jawa yang cenderung turun, dari sebelumnya Rp5.500 per kilogram menjadi Rp5.000 per kilogram. Hal tersebut terjadi karena warga Banjar tidak menyukai beras Jawa.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kalsel Subardjo mengatakan, stok beras di Bulog Kalsel masih cukup besar yaitu 24.625 ton. Jumlah tersebut diprediksi masih mencukupi kebutuhan warga Kalsel hingga enam bulan kedepan.

"Memang terjadi kenaikan harga beras, tapi itu beras lokal, kalau beras pemerintah masih mencukupi," katanya.

Menurut Subardjo, beras lokal seperti jenis unus, biasanya hanya dikonsumsi oleh masyarakat menengah keatas sehingga tidak terlalu besar pengaruhnya terhadap perekonomian Kalsel.

Selain beras, bahan pokok yang mengalami kenaikan diatas 10 persen adalah, sayur-sayuran yang didatangkan dari Jawa seperti kul atau kubis naik Rp2.000 per kilogram dari sebelumnya 5.000 per kilogram menjadi Rp7.000 per kilogram.

Sedangkan harga gula pasir justru terus menurun hingga 13,51 persen dari sebelumnya Rp9.250 menjadi hanya Rp8.000 per kilogram. Hal tersebut terjadi karena adanya pasokan tambahan dari pusat sebanyak 3.000 ton.

Beberapa kebutuhan pokok yang mengalami kenaikan yaitu, daging ayam ras naik dari sebelumnya Rp22.500 per kilogram menjadi Rp23.000 per kilogram, begitu juga dengan telur ayam ras naik dari sebelumnya Rp14.000 menjadi Rp14.500 per kilogram.

Seorang pedagang ayam ras di Pasar Lama, Marsie mengatakan, kenaikan harga ayam dalam dua pekan terakhir menyebabkan penjualan sepi sehingga omset yang didapat turun tajam.

Pewarta: Sukarli
Editor :

COPYRIGHT © ANTARA 2026