Peternak kerbau Desa Ambahai, Kecamatan Paminggir Arif, Minggu (30/1) mengatakan, dalam satu tahun terakhir banjir yang terjadi di daerahnya hampir tidak ada hentinya.
Kondisi tersebut membuat rumput yang biasa menjadi makanan ternak kerbau rawa tidak bisa tumbuh dengan baik.
"Bila banjir rumput-rumput yang biasa dimakan kerbau banyak mati kondisi tersebut membuat ribuan kerbau kelaparan," katanya.
Apalagi banjir di Danau Panggang bisa bertahan cukup lama bahkan mencapai satu hingga tiga bulan.
Selama 2010, kata petani yang memiliki 20 kerbau tersebut tidak kurang dari 50 kerbau milik warga yang mati.
Kepala Desa Ambahai Nur Aidi mengatakan, meminimalisasi kematian kerbau tersebut pihaknya meminta kepada warga mencari lahan lain yang masih banyak rumputnya.
Namun, kata dia, hal tersebut tidak cukup efektif karena rumput di lahan baru juga kurang mencukupi.
Menurut kepala desa yang memiliki kerbau tidak kurang dari seratus ekor tersebut, jumlah kerbau di Kecamatan Paminggir mencapai puluhan ribu bahkan jumlahnya lebih banyak dibanding jumlah penduduk kecamatan Paminggir sekitar 7.000 orang.
Selain itu, kata dia, sebagian kerbau juga menderita penyakit seperti terkena stroke sehingga mengakibatkan kerbau lumpuh separo badan.
"Namun jumlahnya tidak sebanyak kerbau yang mati karena kelaparan," katanya.
Selain Desa Ambahai, puluhan kerbau yang meninggal karena kelaparan juga terjadi di beberapa desa sekitar seperti Desa Subang, Bararawa, Sapala dan Desa Tampakang.
Kepala Desa Bararawa Abdul Aziz mengatakan, dalam lima tahun terakhir cukup banyak kerbau yang mati karena kelaparan akibat banjir yang terjadi cukup lama sehingga rumput tidak bisa tumbuh dengan baik.
Bahkan, kata dia, dalam beberapa tahun terakhir, banjir di desanya dalam satu tahun terjadi dua kali.
Dengan demikian, bila satu kali musim banjir terjadi selama tiga bulan lebih maka banjir di daerah rawa tersebut hampir terjadi sepanjang tahun.
Kondisi tersebut bukan hanya menyebabkan rumput di Kecamatan Paminggir tidak bisa tumbuh, petani juga tidak bisa menanam padi sehingga harus membeli beras ke daerah lain.
Dari penelusuran rombongan komunitas wartawan lingkungan hidup yang tergabung dalam "Komonitas Pena Hijau" bersama tim dari PT Adaro Indonesia, mengetahui pencarian masyarakat Kecamatan Danau Panggang dan Kecamatan Paminggir bertumpu para perikanan dan peternakan kerbau rawa.
Dengan demikian, bila musim banjir terjadi masyarakat dua kecamatan tersebut hampir kehilangan mata pencarian utama.
Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan HSU Suriani mengatakan, pihaknya telah melakukan berbagai upaya membantu masyarakat meminimalisasi kematian ternak akibat kelaparan tersebut.
"Kita minta masyarakat membuka lahan perkebunan rumput baru antara lain di Desa Sambujur Kecamatan Paminggir namun hal tersebut juga belum mencukupi," katanya.
Kedepan, kata dia, akan dicarikan solusi terbaik sehingga kejadian serupa tidak terulang.
"Selain karena kondisi alam, kata dia, jalur transportasi juga menjadi kendala untuk mengatasi berbagai persoalan di daerah tersebut," katanya.
Letak geografis Kecamatan Danau Panggang dan Paminggir merupakan daerah yang paling rendah di Banua Enam sehingga bila terjadi banjir di Kabupaten Tabalong, Balangan dan beberapa daerah lain airnya mengalir ke Danau Panggang.
"Karena mendapatkan luapan banjir dari seluruh daerah tersebut banjir di daerah itu menjadi cukup lama," tambah Nur Aidi.
Humas PT Adaro Ismail mengatakan, melihat kondisi yang cukup memprihatinkan warga di Kecamatan Paminggir dan Danau Panggir tersebut, maka CSR PT Adaro banyak dialokasikan di daerah tersebut.
Menurut dia, ada empat pilar yang dikembangkan perusahaan di daerah tersebut yaitu ekonomi, pendidikan, kesehatan dan sosial masyarakat.
Kenapa di Danau Panggang, kata dia, karena di daerah tersebut selain belum tersentuh program pemerintah, perusahaan juga menilai masyarakat yang menggantungkan kehidupan pada sektor perikanan dan peternakan jauh lebih membutuhkan.(B*C)
Editor : Abdul Hakim Muhiddin
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.