Oleh Ulul Maskuriah

Banjarmasin,  (Antaranews Kalsel) - Badan Pusat Statistik mengatakan petani Kalimantan Selatan saat ini sedang menikmati keuntungan besar menyusul kenaikan nilai tukar petani hingga 0,35 persen yang merupakan tertinggi di Indonesia.


Kepala Bidang Statistik dan Distribusi Ir. Zulkifli di Banjarmasin, Rabu, mengatakan bahwa kenaikan nilai tukar petani tersebut didorong oleh kenaikan harga gabah terutama untuk komoditas beras lokal.

"Saat ini, kita masih jauh dari masa panen sehingga harga beras, terutama untuk beras lokal, terjadi kenaikan," katanya.

Menurut dia, berdasarkan survei BPS terhadap 70 observasi pada 10 kabupaten menyebutkan bahwa harga gabah tertinggi berasal dari gabah kering panen berasal dari gabah varietas siam mayang dengan harga Rp5.100 per kilogram.

Harga terendah, lanjut dia, senilai Rp3.472 per kilogram, yang berasal dari gabah kualitas GKP varietas IR42 yang terjadi di Kecamatan Angkinang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan.

Zulkifli mengungkapkan bahwa kesepuluh kabupaten yang menjadi objek survei, yaitu Tanah Laut, Banjar, Barito Kuala,Tapin, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara, Tabalong, Tanah Bumbu, dan Balangan.

"Rata-rata gabah kualitas GKP di tingkat petani naik 0,5 persen dari Rp4.080,90/kg pada bulan Januari dan menjadi Rp4.101,44/kg pada bulan Februari.

Sementara itu, harga gabah pada tingkat penggilingan naik 0,78 persen dari Rp4.172,06/kg pada bulan Januari menjadi Rp4.204,78/kg pada bulan Februari.

Zulkifli mengungkapkan bahwa nilai tukar petani (NTP) diperoleh dari perbandingan indeks harga yang diterima petani terhadap indeks harga yang dibayar petani, menjadi salah satu indikator relatif tingkat kesejahteraan petani.

"Semakin tinggi NTP, relatif semakin sejahtera tingkat kehidupan petani," tambah Zulkifli.

Pada bulan Februari 2013, NTP Kalsel tercatat sebesar 106,83 atau naik 0,35 persen jika dibanding dengan Januari sebesar 106,45.

Angka NTP tersebut diperoleh dari rasio antara indeks harga yang diterima petani (lt) terhadap indeks harga yang dibayar (ib).

Jika dilihat masing-masing subsektor, dua subsektor mengalami kenaikan NTP yang meliputi tanaman pangan naik sebesar 0,67 persen dan subsektor tanaman perkebunan rakyat naik sebesar 0,60 persen.

  Tiga subsektor pertanian mengalami penurunan NTP, yaitu hortikultura turun sebesar 0,05 persen, subsektor peternakan turun 0,31 persen, dan subsektor perikanan turun 0,46 persen.   


Editor : Asmuni Kadri

COPYRIGHT © ANTARA 2026