Nelayan Kotabaru Kalimantan Selatan hingga saat ini masih kesulitan mendapatkan pinjaman modal dari lembaga perbankan atau pemerintah untuk mengembangkan usahanya memproduksi ikan asin.


Seorang warga Desa Rampa Lama Adnan, Sabtu mengatakan, kelompok nelayan di desanya hingga saat ini belum mampu menyerap pinjaman modal untuk mengembangkan usahanya dari beberapa program yang digulirkan pemerintah baik melalui perbankan atau lembaga lainnya.

"Kami tidak punya modal untuk membeli garam untuk mengasinkan ikan hasil tangakapan di oaut," katanya.

Para nelayan tradisional berharap, pemerintah daerah atau lembaga perbankan membantu kesulitan yang dihadapi para nelayan trandisional tersebut.

Mereka yakin, apabila memiliki modal usaha untuk membeli garam, para nelayan tradisional akan mendapatkan penghasilan tambahan.

"Karena hasil jual ikannya jauh lebih  baik dibandingkan dengan dijual dengan berbentuk ikan segar yang dibekukan," katanya.

Biasanya, ikan hasil tangkapan nelayan dijual seharga Rp15.000-Rp20.000 per basket (sekitar 10-15 kg).

Sementara apabila ikan tersebut diberi garam untuk dijadikan ikan asin bisa dijual seharga Rp100.000 per basket.

Anggota DPRD Kotabaru H Syaiful Bahri M.SI, mengatakan, para nelayan memang kesulitan dalam hal permodalan, padahal Sumber Daya Alam (SDA) seperti ikan cukup melimpah.

Syaiful berjanji akan berkoordinasi dengan pihak terkait agar nelayan tradisional tersebut bisa menyerap pinjaman modal dari lembaga perbankan atau bantuan dari pemerintah daerah.

Ia juga berjanji akan mempertemukan pengusaha atau pedagang pengumpul untuk menampung ikan asin dari para nelayan tradisional tersebut.

Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Talib, MAP saat dikonfirmasi mengatakan, pihaknya akan berusaha agar para nelayan bisa mendapatkan bantuan modal.

"Rencana Dinas Perikanan dan Kelautan akan mengusulkan permintaan nelayan tradisinoal tersebut kepada pemerintah pusat dan daerah," pungkas Talib/C/ 

Pewarta:

Editor : Ulul Maskuriah


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Selatan 2012