China mengecam serangan yang menyasar warga sipil dan fasilitas nonmiliter dalam eskalasi terbaru konflik di Timur Tengah, kata Menteri Luar Negeri Wang Yi, Selasa.

“China tidak mendukung perluasan cakupan serangan dan mengecam tindakan yang menyasar warga sipil serta target nonmiliter di Timur Tengah. Kedaulatan, keamanan, dan integritas wilayah negara-negara Arab harus dihormati,” kata Wang seperti dikutip Kementerian Luar Negeri China dalam percakapan telepon dengan Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Qatar Mohammed bin Abdulrahman Al Thani.

Diplomat tertinggi China itu menilai eskalasi konflik saat ini hanya akan membawa kerugian yang lebih besar bagi semua pihak yang terlibat.

Menurut Wang, peningkatan konflik berpotensi memperburuk stabilitas kawasan yang sudah berada dalam situasi tegang.

Ia juga menegaskan bahwa penyelesaian konflik melalui jalur dialog dan diplomasi tetap menjadi pilihan yang paling rasional bagi semua pihak.

Sementara itu, pada 2 Maret, Kementerian Luar Negeri China menyatakan Beijing menilai tidak dapat diterima apabila ketidakstabilan kawasan berdampak negatif terhadap perkembangan ekonomi global.

Baca juga: China siap lindungi keamanan energi nasional

Pemerintah China juga menyoroti pentingnya stabilitas di jalur perdagangan energi dunia.

Beijing menyebut Selat Hormuz dan perairan di sekitarnya sebagai jalur perdagangan internasional yang sangat penting bagi distribusi barang dan sumber daya energi.

Setiap gangguan terhadap jalur tersebut dinilai dapat memicu dampak luas terhadap perdagangan global.

Eskalasi konflik kawasan meningkat setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran pada 28 Februari, termasuk di ibu kota Teheran.

Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan kerusakan pada sejumlah fasilitas serta menimbulkan korban sipil.

Iran kemudian membalas dengan meluncurkan serangan ke wilayah Israel serta fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Washington dan Tel Aviv pada awalnya menyatakan bahwa serangan yang mereka sebut sebagai langkah “pencegahan” itu diperlukan untuk menghadapi ancaman yang dinilai berasal dari program nuklir Iran.

Baca juga: China dikabarkan mulai dukung Iran dalam konflik dengan AS-Israel

Namun, dalam perkembangan berikutnya, kedua negara juga menyampaikan keinginan untuk melihat perubahan kekuasaan di Iran.

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan syahid pada hari pertama operasi militer tersebut.

Pemerintah Republik Islam Iran kemudian menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari.

Presiden Rusia Vladimir Putin menyebut pembunuhan Khamenei sebagai pelanggaran sinis terhadap hukum internasional.

Kementerian Luar Negeri Rusia juga mengutuk operasi militer Amerika Serikat dan Israel serta mendesak deeskalasi segera dan penghentian permusuhan.

Sumber: Sputnik

Baca juga: PM Li Qiang: China berbagai langkah atasi gejolak 2025


 


Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: China kutuk serangan terhadap warga sipil di Timur Tengah

Pewarta: Yoanita Hastryka Djohan

Editor : Imam Hanafi


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Selatan 2026