Anggota Komisi II Bidang Ekonomi dan Keuangan DPRD Kalimantan Selatan (Kalsel) Firman Yusi berpendapat, bahwa kopi asal provinsinya berpeluang menembus pasar global atau dunia.
"Saya optimistis, kopi Kalsel berpeluang tembus pasar global," ujar alumnus Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin ketika dikonfirmasi, Rabu.
Wakil rakyat kelahiran "Kota Minyak" Tanjung (237 km utara Banjarmasin), ibukota Kabupaten Tabalong itu mengaku, sejak menjadi Anggota Komisi II DPRD provinsi setempat salah satu perhatian seriusnya terkait peluang kopi Kalsel tembus pasar global.
Firman Yusi yang juga Sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DPRD Kalsel mengungkapkan, sejumlah sampel kopi yang dicoba uji beberapa sahabat, menarik minat pasar Eropa.
"Tapi ada info penting yang harus menjadi konsen para pengambil kebijakan terkait produk kopi tersebut," ujar wakil rakyat asal daerah pemilihan Kalsel V/Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Balangan dan Kabupaten Tabalong itu.
Anggota DPRD Kalsel dua periode itu menerangkan, pada 29 Juni 2023, Uni Eropa (EU) mengukuhkan sebuah regulasi yang diprediksi akan mengubah lanskap perdagangan komoditas global: European Union Deforestation Regulation (EUDR).
Ia menambahkan, bahwa regulasi tersebut mewajibkan semua produk, termasuk kopi, yang diimpor ke pasar EU atau diekspor dari wilayahnya, untuk membuktikan bahwa komoditas tersebut “bebas deforestasi” (diproduksi di lahan yang tidak mengalami deforestasi atau degradasi hutan setelah 31 Desember 2020) dan sesuai dengan hukum negara produsen.
"Bagi produsen kopi di seluruh dunia, ini adalah alarm sekaligus kompas baru, " ujar alumnus Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin tersebut.
Menurut dia, tantangannya nyata dan berat, tetapi bukan tak tertembus. "Justru, dalam upaya memenuhi standar tinggi EUDR tersembunyi jalan untuk memperkuat kedaulatan petani, melindungi sisa hutan Kalimantan, dan menaikkan martabat kopi Kalsel di kancah global," katanya.
Hal itu semua, menurut mantan Anggota DPRD "Bumi Saraba Kawa" Tabalong tersebut, kuncinya terletak pada kolaborasi, inovasi, dan komitmen jangka panjang.
"Dengan kerja keras semua pihak, tantangan EUDR tidak akan menjadi akhir dari cerita, melainkan awal dari babak baru kopi Kalsel: yang lebih lestari, lebih adil, dan lebih bermakna. Kopi Kalsel bukan lagi sekadar komoditas, tetapi duta pelestarian yang dinikmati dunia," demikian Firman Yusi.
Editor : Sukarli
COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Selatan 2026