Hari yang dinanti pun semakin dekat, Ahmad Nur Arif Saiffanto segera mewujudkan mimpinya untuk tampil perdana pada ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) XX/2021 Papua yang sudah ditunggu selama hampir lima tahun.

Pria kelahiran Kediri, Jawa Timur, pada 26 tahun silam itu mengemban kepercayaan sang pelatih kepala Hasan Basri untuk mengisi posisi batsman atau pemukul di tim kriket Jawa Barat.

Bagi Arif, kepercayaan Hasan bukanlah tugas ringan, sebab seorang batsman berperan penting mengendalikan alur pertandingan yang populer di negara persemakmuran Inggris itu.

Tugas dari alumni Fakultas Olahraga Universitas Islam 45 (UNISMA) Bekasi 2018 itu adalah mencetak run (larian) sebanyak mungkin di saat tim lawan melempar dan menjaga bola (fielding), berusaha untuk menghentikan skor dan menggagalkan pemukul untuk mengakhiri giliran.

Baca juga: PON bentuk karakter atlet berkelas dunia

Dijumpai seusai sesi latihan fisik di Lapangan Yonif Mekanis 202/Tajimalela, Kota Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (11/9), Arif begitu bersemangat menyambut PON setelah pulih dari cedera tulang jari manis dan kelingking saat berlatih beberapa bulan lalu.

Persiapan fisik, mental serta koordinasi tim adalah modal utama Arif untuk membuktikan Jawa Barat layak atas predikat sebagai tim terkuat di Tanah Air pada ajang empat tahunan yang kali ini dihelat di Bumi Cenderawasih.

Pencetak 59 run di Jakarta Cricket Assosiasion (JCA) 2020 itu seakan belum puas menggali potensi diri demi tampil maksimal di Kabupaten Jayapura pada 19 September hingga 13 Oktober 2021.

Baca juga: BASARNAS siapkan heli SAR HR3605 dukung pelaksanaan PON XX

"Secara rekor personal saya 59 run. Tapi itu belum sebanding dengan pencapaian Kapten Tim Inggris Joseph Edward Root yang bisa mencapai rata-rata 100 run dalam beberapa kali bertanding. PON itu puncak perjalanan karir saya yang sangat saya impikan. Saya latihan dari 2016 memang untuk mengincar emas PON," katanya.



(Selanjutnya: Peta kekuatan)
   
Batsmas Tim Kriket Jawa Barat Ahmad Nur Arif Saiffanto berpose saat latihan fisik menjelang pelaksanaan PON XX Papua di Lapangan Yonif Mekanis 202/Tajimalela, Kota Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (11/9/2021). (ANTARA/Andi Firdaus)

Sore itu tepat setahun Arif berlatih bersama 27 orang tim kriket perwakilan Jawa Barat yang terbagi atas 14 tim putra dan 14 tim putri.

Hasan membagi jadwal latihan Arif bersama tim dalam dua sesi rutin setiap Selasa hingga Sabtu. Sesi pagi dimulai pukul 08.00 hingga 11.00 WIB untuk materi teknik dan berlanjut ke sesi dua pukul 13.00 hingga 17.00 WIB untuk mengolah fisik maupun 'fun game'.

"Kalau persiapan fisik dan mental, saya rasa sudah 100 persen. Tinggal mengantisipasi cedera saja, karena bisa fatal kalau sampai terjadi menjelang PON," kata Arif.

Melansir keterangan Persatuan Cricket Indonesia, Jawa Barat menduduki peringkat kelima T20 National Rank Tim Putra pada update terakhir 3 September 2021.

Arif dan kolega "membayangi" Nusa Tenggara Timur (NTT) di peringkat empat dengan torehan yang sama sebanyak 60 poin, Kalimantan Timur (Kaltim) di peringkat tiga sebanyak 87 poin, DKI Jakarta di peringat dua sebanyak 99 poin dan Bali di peringkat pertama dengan torehan telak 240 poin.

"Target kami di PON adalah mengalahkan Bali dan DKI Jakarta. Sebelumnya, Jabar pernah mengalahkan Bali di penyisihan grup Kejuaraan Sixes di Bali pada April 2021 dan menang atas Jakarta di semi final Pra PON Oktober 2019," kata Arif.



   
Hal serupa dilontarkan Hasan saat disinggung terkait peta kekuatan lawan di ajang PON. Namun selain dua provinsi tersebut, tim tuan rumah Papua yang kini bercokol di peringkat delapan nasional dengan kekurangan 9 poin dari Jabar juga perlu diwaspadai.

"Keuntungan kita dari kompetitor di PON sebelumnya yakni Bali itu terpecah, dengan adanya beberapa atlet yang pindah ke Papua dan pemain best player di Bali itu lepas," kata Hasan.

Skuad Bali, kata Hasan, menyisakan pemain senior yang berpengalaman di berbagai perlombaan. "Atlet senior itu menang di pengalaman, tapi kalau stamina masih boleh diadu dengan pemain muda. Kriket ini butuh daya tahan stamina lebih lama, bisa main 3,5 jam," katanya.

Kompetitor lainnya seperti Tim DKI Jakarta, dikabarkan Hasan beberapa atletnya sedang dilanda cedera sehingga membuka peluang Jabar untuk unggul pada tiga nomor kompetisi yang akan dipertandingkan, yakni Twenty, Super Eight, dan Sixes.



(Selanjutnya: Ancaman wabah)
Gelombang kedua pandemi COVID-19 yang memuncak di Tanah Air pada pertengahan Juli 2020, membuat sesi latihan di Tajimalela terkendala. Tujuh dari 14 atlet putra terkonfirmasi positif COVID-19 dengan gejala ringan hingga berat.

SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 begitu cepat menular ke sejumlah atlet Jabar sebab mereka tinggal dalam satu atap di penginapan yang berjarak 'selemparan batu' dari Lapangan Tajimalela. Pun Hasan bersama asisten pelatih yang semula tidak percaya COVID-19, akhirnya mengalami sesak napas.

"Saat itu semua fasilitas pelayanan kesehatan di Bekasi sedang mengalami lonjakan. Tidak ada tenaga kesehatan yang sempat menangani atlet Jabar. Akhirnya saya bersama asisten pelatih yang turun tangan mengetes satu per satu atlet menggunakan antigen. Pas dicolok ke hidung, ada saja yang bersin sehingga kami pun tertular," kata Hasan.


 
Ancaman wabah menjelang pelaksanaan PON mendorong keputusan Hasan untuk memulangkan seluruh atlet ke daerah asal mereka. Strategi berlatih pun diubah menggunakan aplikasi agar setiap capaian atlet dapat terus termonitor.

COVID-19 bukan penghalang bagi Arif untuk tetap konsisten melatih kekuatan tangan sesuai panduan pelatih meski harus dilakukan di kediamannya kawasan Kranji, Kota Bekasi, Jawa Barat.

"Kriket ini mengajarkan saya bisa lebih disipilin, jujur, kerja sama tim, kepercayaan diri itu harus, terutama fisik sama mental. Latihan ini saya laporkan rutin kepada pelatih lewat aplikasi," kata.

Berstatus sebagai penyintas COVID-19 sejak Desember 2020 serta memperoleh dosis lengkap vaksin produksi Sinovac pada April dan Mei 2021 diyakini Arif mampu memberikan perlindungan optimal selama mengarungi pertandingan PON.

"Faktor keluarga jadi pemicu semangat saya di kriket. Walaupun sempat dilarang sama ibu (jadi atlet kriket), tapi orang tua dukung banget saya sekarang dan mereka bangga karena saya bisa mandiri dari karir ini," ujar anak pertama dari pasangan Mohamad Bisri dan Sumardiyah itu menutup perbincangan.
 

Pewarta: Andi Firdaus

Editor : Imam Hanafi


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Selatan 2021