Oleh Ulul Maskuriah

Banjarmasin, (Antaranews.Kalsel) - Istri Gubernur Kalimantan Selatan Hayatun Fardah Rudy Ariffin mengungkapkan, saat ini pihaknya sedang gencar untuk membantu program penurunan angka kematian ibu dan bayi di provinsi itu yang dinilai kini masih tinggi.

"Melalui PKK dan program Posyandu, kita terus melakukan sosialisasi agar ibu hamil bersedia memeriksakan diri ke Puskesmas maupun ke bidan sehingga, kandungannya bisa terus dilakukan pemantauan," kata Hayatun pada peringatan puncak hari ibu ke - 85 di Banjarmasin, Senin.

Menurut Hayatun, melalui pemeriksaan secara rutin, maka perkembangan janin selama bayi dalam kandungan bisa terus dilakukan pemantauan, begitu juga dengan kesehatan ibu hamil.

Melalui pemeriksaan rutin tersebut, tambah Hayatun, berbagai hal yang tidak diinginkan bisa dicegah dan diantisipasi.

"Hal yang tidak kalah pentinya adalah, memberikan pengertian kepada keluarga ibu hamil, untuk segera melakukan tindakan cepat pada saat diperlukan," katanya.

Menurut Hayatun, yang terjadi selama ini, banyak ibu hamil yang mengalami permasalahan saat melahirkan, dan harus mendapatkan pertolongan cepat, pihak keluarga justru menghambat dengan berbagai pertimbangan.

Akibatnya, kata dia, bayi dan ibunya yang seharusnya dapat ditolong saat proses persalinan, justru terlambat dilakukan tindakan sehingga mengakibatkan kematian.

"Situasi seperti tersebut di atas, yang kini sedang terus disosialisasikan, sehingga tumbuh kesadaran, ibu hamil dan keluarganya saling mendukung untuk rutin memeriksakan diri dan melahirkan dengan ditangani tim medis," katanya.

Sebelumnya, disebutkan, kasus kematian ibu dan bayi di Kalimantan Selatan masih cukup tinggi yaitu mencapai 560 kasus untuk kematian bayi dan kematian ibu mencapai 60 kasus.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan Rudiansyah mengungkapkan, data tersebut terus mengalami penurunan setiap tahunnya.

Pada 2012, angka kematian ibu mencapai 123 kasus dan 2013 hingga September sebanyak 60 kasus, diharapkan hingga akhir tahun data tersebut tidak bertambah.

Begitu juga dengan kematian bayi, pada 2012 mencapai 816 kasus dan 2013 hingga September turun menjadi 560 kasus.

"Sebenarnya hampir 96 persen desa di Kalsel telah mimiliki bidan desa, namun kebijakan tersebut belum mampu menurunkan kasus kematian ibu dan anak secara signifikan," katanya.

Menurut Rudiansyah, ada beberapa faktor penyebab sulitnya mencegah kematian ibu dan bayi, antara lain adalah pandangan sosial masyarakat yang masih lebih memilih dukun beranak dari pada ke bidan.

Tidak sedikit, ibu melahirkan yang harus secepatnya dirujuk ke Puskesmas atau rumah sakit, tetapi karena adanya pandangan sosial masyarakat, antara lain harus dicarikan air dari dukun dan lainnya, sehingga ibu tersebut terlambat ditolong.

"Ada pandangan sosial masyarakat yang menghambat keputusan medis atau bidan untuk melakukan pertolongan secara cepat, sehingga tidak sedikit kasus ibu atau bayi meninggal karena keterlambatan keputusan untuk melakukan tindakan medis.

Pewarta:

Editor : Imam Hanafi


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Selatan 2013